Bismillah …
Kita sepatutnya mengapresiasi kerja tim Indonesia Corruption Watch
(ICW) yang menyajikan data informasi korupsi di website resminya:
http://antikorupsi.org/
sehingga berbagai elemen masyarakat bisa mengambil data korupsi dengan
mudah, lalu membuat resume. Inilah keterbukaan informasi, sehingga semua
orang bisa membuat data dan grafik sendiri “base on” himpunan berita
yang ada.
Ada hal menarik, ketika ada bagian dari elemen masyarakat merilis tabel dan grafik partai korup melalui akun twitter
@KPKwatchRI, dengan dasar utama yang dipakai dalam penyusunannya adalah situs ICW. Tabel dan grafik tersebut adalah sebagai berikut:

Update Maret 2014 | Versi sebelumnya
di sini
dan Tabel Besar Kerugian Negara:
Kemudian, Indeks Partai Korupsi berdasarkan hasil Pemilu 2009:

Update Maret 2014 | Versi sebelumnya
di sini
Tabel dan grafik di atas juga diikuti dengan detail nama-nama politisi
pada masing-masing partai. Setelah rilis tersebut tersebar luas,
ternyata mendapat bantahan dari ICW melalui akun twitter @sahabatICW
yang menyatakan bahwa rilis tersebut bersifat HOAX
[Twit 1] dan
[Twit 2].
Tidak dijelaskan, hoax-nya di bagian mananya. Namun, menurut
penilaian saya, pencantuman logo ICW pada tabel dan grafik yang dibikin
@KPKwatchRI adalah tidak pada tempatnya, kecuali sebelumnya mereka
berkolaborasi dalam penyusunan dan ada kesepakatan bersama. Tim
@KPKwatchRI telah menyampaikan alasan bahwa pencantuman logo ICW adalah
bentuk apresiasinya atas keterbukaan informasi yang dilakukan ICW
terhadap websitenya
[Twit 3].
Mereka menganggap bahwa hal tersebut adalah bagian dari prinsip / etika
jurnalisme secara umum, yaitu jika mengambil bahan / data harap
mencantumkan sumbernya.
[Twit 4].
Itu betul, mereka telah menampilkan sumbernya, namun tidak tepat untuk
pemakaian logo organisasi, ada aturan bakunya sehingga tidak sembarangan
ditempatkan dalam bagian publikasi. Semoga ini menjadi masukan bagi tim
@KPKwatchRI yang telah mempunyai niat baik mencerdaskan masyarakat
melalui budaya:
Speak with data / fact.
Namun demikian, saya tetap mengapresiasi setinggi-tingginya atas
kerja keras tim @KPKwatchRI yang membuat publikasi tersebut. Resume yang
mereka himpun menurut saya
BUKAN HOAX, karena sumbernya jelas, nama-nama koruptornya mudah ditelusuri
[lihat daftarnya di Halaman 2 jurnal ini].
Saya coba rangkum dari
chirpstory,
tentang bagaimana tim @KPKwatchRI melakukan proses pengambilan data
dari website resmi ICW antikorupsi.org untuk mendapatkan tabel
partai-partai korup. Urutan prosesnya sebagai berikut:
- Buka website ICW antikorupsi.org, di situ ada “Search” dan “Dokumen”.
- Kemudian Download data ICW yang ada di menu “Dokumen”.
- Ada menu “Search” yang bisa kita isi dengan 2 suku kata, maka
siapkan kata pencarian 2 suku kata tersebut untuk mencari kasus korupsi
pada periode tersebut. Contoh: kita search dengan kata “Bupati Korupsi”,
maka akan didapat puluhan berita bupati korupsi. Coba search dengan
kata “Korupsi APBD” akan muncul puluhan link berita korupsi.
- Kemudian catat Nama, Jabatan, Kerugian negara, Kasus, Partai, Status yang ada di link hasil pencarian tersebut.
- Kemudian pisahkan berdasarkan partai, sehingga jelas hasilnya, seperti grafik dan tabel di sini.
- Ricek kembali nama-nama tersebut di website berita online lain untuk keakuratan data.
- Dari ribuan berita kasus korupsi, di dapatkan 300an nama kader parpol tersangkut. Setelah dipisahkan didapatkan hasilnya seperti ini.
- Selanjutnya dikembangkan dalam bentuk tabel atau grafik.
- Kelemahan, ada sekitar 1-2% data yang mungkin tidak masuk, atau seharusnya tidak masuk.
- Sangat mungkin ada nama misal: A mendapat vonis/status tersangka.
Dalam prosesnya dibebaskan hakim, namun tidak diberitakan media. Jika
terjadi hal demikian, mereka segera melakukan klarifikasi pemulihan.
Untuk itu ditunggu masukan dari publik follower @KPKwatchRI.
Kita perlu mengacungkan jempol atas kerja keras tim @KPKwatch_RI yang
berani me-resume data dan merilisnya. Itu bukanlah hal yang mudah, perlu
ketelitian karena harus bisa dipertanggung-jawabkan. Kabarnya, tim
@KPKwatchRI juga akan meneliti website
http://infokorupsi.com/ untuk membuat ranking serupa sebagai pembanding. Mari kita tunggu rilisnya.
[Update 12 Maret 2014: Tim
KPK Watch RI sudah merilis update grafik tersebut lebih lengkap
berdasarkan hasil resume-nya pada polri.go.id, mahkamahagung.go.id,
infokorupsi.go.id, kpk.go.id, korupedia.org, kejaksaan.go.id]
Jika kemudian ICW mengeluarkan rilis partai korupsi periode
2002-2014, mungkin hasil persentase tidak berbeda jauh dengan yang
dimiliki tim @KPKwatchRI. Mengingat pada tahun lalu, ICW telah merilis
kondisi partai korup pada periode tahun 2013, dengan hasil sebagai
berikut:

Itulah fakta tentang partai juara korupsi, sepertinya beda jauh
dengan anggapan masyarakat selama ini (terutama yang rendah tingkat
pendidikannya atau tidak melek internet) tentang partai korup akibat
keracunan persepsi media.
Pemilu tinggal dua bulan lagi, namun sampai sekarang ICW belum merilis data resume
secara lengkap
seperti yang dilakukan tim @KPKwatch_RI. Apakah ICW belum bisa menerima
fakta bahwa partai paling korup ternyata bukan partai yang selama ini
mereka persepsikan buruk, yang mereka kritik habis-habisan, tidak peduli
benar atau salah sumbernya.
Ingat, dulu ICW pernah membabi buta menyerang, mendiskreditkan, dan
mewacanakan pembubaran partai yang mereka persepsikan paling korup. [
sila baca di sini].
Tampak ngawur sekali, tidak paham UU parpol, berwacana dengan tidak
merasa perlu data dan sumber. Justru partai yang diserangnya itu
faktanya malah paling buncit index korupsinya.
Oleh karena itu,
mari kita dorong ICW atau KPK membuat rilis partai korup untuk masa depan RI yang lebih baik.
Mari jadikan ini perhatian kita bersama agar korupsi bisa hilang dengan
sebenarnya, dengan berhati-hati pada partai korup. ICW sudah ditantang
tim @KPKwatch_RI untuk mengeluarkan resume data partai korup menjelang
pemilu ini. Berani tidak?!
Sebelum terlalu dini bilang Hoax, mestinya ICW berterimakasih karena
sudah dibantu menyusun dan me-resume data partai korup, tinggal lihat
satu per satu data dari tim @KPKwatch_RI. Silakan check saja, cocokkan
nama-namanya. Yang keliru diluruskan dengan baik. Jangan melihat siapa
yang bicara, validasi saja datanya, tinggal googling, informasinya umum.
Gampang, bukan?!
Kita semua pun juga bisa mem-validasinya sendiri, tidak harus
menunggu rilis ICW. Kita mempunyai tanggung jawab moral untuk
menyampaikan data yang sebenarnya tentang korupsi di negeri ini, untuk
diberantas bersama-sama, tanpa pandang bulu dan tebang pilih. Sudah
saatnya masyarakat luas dicerdaskan dengan data dan fakta, bukan dijebak
dengan opini atau persepsi media. Tanpa penyajian data dan fakta, semua
pihak akan dengan bebas melakukan penyesatan opini.
Beruntungnya Partai-Partai Juara Korupsi
Media-media corong parpol jawara korupsi sudah sering terlihat
berusaha menyesatkan opini, mengeliminasi isu korupsi agar tidak
terkesan berimbas pada partainya. Saat kasus korupsi terungkap, sebisa
mungkin untuk tidak terlalu vulgar menyebut nama partainya. NAMUN kalau
yang korupsi adalah berasal dari parpol lawan politiknya, meski masih
berstatus terduga sekalipun, akan di-blow up habis-habisan oleh jaringan
media partisannya, dibicarakan terus sepanjang tahun. Seakan-akan
partai itulah yang paling korup, kalau perlu kehidupan rumah tangga
kader-kadernya ditelanjangi, hingga mengakar buruk dalam persepsi
masyarakat. Fokus di masyarakat saat ini sudah tergambar seperti ini:
Sumber gambar: FP FB Ironisia
Let’s speak with data / facts, sebab kinerja hanya bisa dinilai dengan data-data, sedangkan citra bisa dibentuk atau dihancurkan oleh opini.
Sekarang Anda sudah tahu faktanya.
Tahun 2014, Jangan Golput ya. Golput alias Golongan Putus asa sudah terbukti tidak merubah keadaan.
Bicara tentang perubahan, ada pencerahan dari Pak Ganjar Widhiyoga
(kandidat doktor ilmu hubungan internasional) yang menarik untuk
disimak:
Apalah arti sebuah golput?
Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
http://iwanyuliyanto.wordpress.com/2014/02/15/keberuntungan-jawara-partai-korup-di-negeri-ironisia/