-Ganti almt yg url merah di atas dgn url yang tadi anda buat di http://code.google.com/hosting/
Latest Movie :


Recent Movies

Berhenti Berbaik Sangka

By:Nandang Burhanudin
*
Anda pasti kaget dengan judul di atas. Tapi Anda pun pasti tersentak melihat fenomena fakta berikut:

(1) Ketika Hitler merajai Eropa. Kaum Yahudi banyak yang bersembunyi di masjid-masjid. Umat Islam secara sukarela memberikan identitas Muslim, agar kaum Yahudi terhindar dari genosida Hitler. Tapi kini? Yahudi yang sama justru membunuhi umat Islam di Palestina. Menjajah. Menghinakan. Masihkah mau memaafkan?
(2) Ketika Presiden Mursi berkuasa. Mursi menunjuk Jenderal As-Sisi sebagai panglima AB. Mursi memaafkan institusi militer dan mengajak rekonsiliasi nasional. Ajakan Mursi sangat positif. Tapi apa yang terjadi kemudian? As-Sisi menjalankan agenda Yahudi. Mursi dipenjarakan bersama puluhan ribu antikudeta. Dibunuh. Dibantai. Dibakar. Dunia diam. Adakah rekonsiliasi itu?
(3) Ketika reformasi 1998. Semua sepakat menyongsong Indonesia baru. Rakyat Indonesia memaafkan kroni-kroni Orde Baru, terutama di partai politik (PDIP, Golkar, PPP). Namun apa yang terjadi kemudian? Megawati dengan angkuh menjual Indosat. China yang di era reformasi dipermasalahkan. Semakin menggurita dengan korupsinya. Masihkan berbaik sangka?
(4) Ketika seorang Ustadz dituduh bagian dari sel Terorisme Indonesia oleh Metro TV. Sang Ustadz tidak menuntut balik, tapi memaafkan. Lalu apa yang terjadi kemudian? Metro TV ternyata bagian dari jaringan Yahudi Internasional, dengan mengutus wartawannya berjumpa Netanyahu, si haus darah penjagal rakyat Palestina. Metro TV pula yang selalu rajin memberitakan aktivitas Densus 88, yang membunuh Siyono, Ustadz aktivis Muhammadiyah. Masihkah berbaik sangka?
Memaafkan. Berbaik sangka. Sangat bagus di kala kita kuat. Tapi melakukannya di kala lemah tak berdaya, sama dengan membuka jalan kezhaliman terus menjadi tsunami yang mematikan. Oleh karena itu, saat ada kesempatan dan celah. Berhentilah husnuzhan kepada kaum yang tak layak dihusnuzhani. Sebagaimana berhenti memaafkan kepada kaum yang tak layak diberi pemaafan. Allah pun mengatur segalanya dengan proporsional.

Studi Banding Kasus Ahok Sumber Waras VS Kasus LHI

Studi banding antara kasus RS Sumber Waras yang melibatkan ahok selaku Gubernur DKI Jakarta; dengan kasus Impor Sapi yang disangkakan kepada LHI.

Kasus RS Sumber Waras:

Audit yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), selaku lembaga resmi auditor negara, menyatakan bahwa pembelian lahan yang bersertifikat hak guna bangunan itu telah merugikan daerah sebesar Rp 191 miliar. BPK juga menilai lahan yang dibeli pemerintah lebih mahal dibandingkan harga tanah di sekitarnya sehingga ada potensi kerugian sebesar Rp 484 miliar. (https://m.tempo.co/read/news/2015/12/07/231725579/bpk-berikan-audit-rs-sumber-waras-ke-kpk-ada-6-penyimpangan)

Meskipun jelas-jelas merugikan negara, KPK belum menetapkan Ahok sebagai tersangka hanya karena KPK belum melihat adanya NIAT jahat dalam kasus tersebut.

"Kami harus yakin betul di dalam kejadian itu ada niat jahat. Kalau hanya kesalahan prosedur, tetapi tidak ada niat jahat, ya susah juga," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (29/3/2016). (http://megapolitan.kompas.com/read/2016/03/29/22580791/KPK.Belum.Temukan.Adanya.Niat.Jahat.dalam.Kasus.Sumber.Waras)

Kasus Suap Impor Sapi-LHI:

Pada fakta persidangan terungkap bahwa uang Rp1,3 miliar, yang dalam dakwaan jaksa diperuntukkan untuk LHI, ternyata uang tersebut digunakan oleh Ahmad Fathonah (AF) untuk mengurus proyek PLTS di Kementerian Daerah Tertinggal sebesar 300 juta, kemudian untuk membayar uang muka pembelian mobil Mercy S200 sebesar Rp400 juta dan membayar biaya disain interior yang dipesan AF sebesar Rp495 juta.

Artinya.... di persidangan terungkap bahwa TIDAK satu rupiah pun uang yang dituduhkan oleh KPK yang diterima oleh LHI. Jaksa KPK hanya bisa membuktikan aliran dana tersebut ke AF, tapi TIDAK bisa membuktikan bahwa uang itu diterima oleh LHI.

Sekalipun demikian, tidak ada KERUGIAN NEGARA dalam kasus ini, karena kenaikan kuota impor sapi yang dijanjikan ke PT. Indoguna tidak pernah terjadi. Lagi pula, ini adalah bisnis antara swasta dengan swasta. Dimana kerugian negaranya?

Meskipun demikian Majelis Hakim Tipikor, bahkan sampai tingkat kasasi, menetapkan vonis 18 tahun penjara kepada LHI karena dianggap AKAN MENERIMA gratifikasi dalam kapasitasnya selaku Penyelenggara Negara. ‪(‎NIAT‬).

Atas vonis hakim tsb, Prof. Bagir Manan (mantan ketua Mahkamah Agung) menyampaikan pandangannya sbb:

“Uang itu belum sampai kepada Luthfi. Jadi, hanya asumsi kita saja. Kita percaya pada keterangan Fathanah bahwa uang itu untuk dia dan Luthfi tidak mengakui itu. Hukum tak boleh mengadili orang hanya berdasarkan keterangan satu orang tanpa bukti lain,” ujarnya.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pers ini menuturkan seandainya pun ada NIAT, maka NIAT itu tidak bisa digunakan untuk menghukum. “Niat kita mau kawin, apa kita sudah kawin? Kan tidak. Peristiwa hukum belum terjadi,” tambahnya.

KESIMPULAN:

- Kasus RS Sumber Waras: KERUGIAN NEGARA 191 miliar, NIAT tidak ada. Maka ini bukan korupsi.

- Kasus LHI-Impor Sapi: KERUGIAN NEGARA 0 rupiah, NIAT (katanya) ada. Maka ini adalah korupsi.

Lah.... sejak kapan NIAT menjadi dasar dakwaan, sedang KERUGIAN NEGARA diabaikan?

Saya memang tidak pernah belajar di fakultas hukum, tapi gak GOBLOK-GOBLOK banget soal ginian.

Nahkumu bi al-dzawahir. Jatuhkan hukum sesuai dhohirnya, bukan niatnya. Begitu kaidah hukum mengajarkan.

Jadi, KPK punya "NIAT" berantas Korupsi tidak? 

Mari tertawa di zaman yang makin edan ini.

(by Erwin Al-Fatih)

Studi Banding Kasus Ahok Sumber Waras VS Kasus LHI http://www.portalpiyungan.com/2016/03/studi-banding-kasus-ahok-sumber-waras.html

Antara HTI, Demokrasi dan Pemilihan Gubernur DKI

Oleh: Rofi Munawwar*

Bulan Februari  2016 media sosial diramaikan berita wali kota Bogor Bima Arya yang meresmikan kantor DPD Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Kompas.com bahkan dengan sinis, membuat judul “Hadiri Peresmian Kantor HTI, Bima Arya Dikritik Netizen”. Sedangkan, Sindonews dengan tajuk “Gara-gara Resmikan Kantor HTI, Warga Bogor Kecam Bima Arya”.

Tentu, hadirnya Bima Arya ke acara apapun hak yang bersangkutan. Apalagi ia adalah seorang pimpinan untuk orang banyak.

Hanya saja, yang menarik kehadiran Bima Arya pada acara HTI menjadi multi tafsir dan bisa melahirkan banyak pendapat.  Apalagi sebelumnya, dalam sebuah terbitan resmi, Buletin Al-Islam, HTI  pernah membuat judul (maaf) agak sinis, “Pepesan Kosong Pilkada Serentak” yang isinya menolak diselenggarakannya Pilkada.

Tulisan tersebut bahkan sempat menimbulkan kritik dari Cagub DKI Jakarta, Dr. Adhyaksa Dault.

Di masyarakat (utamanya di jagad Medsos),  kehadiran Bima Arya dalam peresmian Kantor HTI menjadi bahan tertawaan. Bukannya, Bima Arya adalah pejabat Kepala Daerah yang ditetapkan dari hasil Pilkada 2013?

Dalam situs resmi HTI juga, dijelaskan yang hadir dalam acara itu bukan hanya Wali Kota Bogor. Tampak hadir pula Ketua DPRD Bogor, Sekda Kota Bogor dan Danrem 061 Suryakancana.

“Kami memberikan support untuk memerangi kebathilan dan kemungkaran di Kota Bogor,” tegas Bima Arya yang bertindak sebagai keynote speaker acara tersebut. [Pemkot Bogor Bersinergi Bersama HTI Perangi Kemaksiatan, http://hizbut-tahrir.or.id, 10 Februari 2016]

Wajar muncul banyak pertanyaan. Ada apa dengan HTI? Apa mungkin sudah mulai lentur dengan sistem demokrasi yang selalu ia kritisi selama ini?

Selain itu, selama ini, sikap alergi HTI terhadap demokrasi sedikit banyak telah membuat banyak gesekan di dalam tubuh umat Islam sendiri. Sangat disayangkan HTI (yang sejauh ini saya kenal sangat kreatif dalam dakwahnya), dalam waktu yang bersamaan, banyak juga umat Islam yang nyinyir dengannya.

Penulis bukan bersikap anti dengan ide HTI yakni menegakkan Khilafah.  Sebab tak ada umat Islam sedunia yang menolak jika ada khilafah ditegakkan. Masalahnya, mengapa tidak memanfaatkan saja kehadiran demokrasi menjadi alat untuk tujuan utamanya. Tentu, soal inipun (demokresi, red) masih membutuhkan perdebatan panjang.

Penulis hanya berpendapat bahwa sesungguhnya lawan khilafah bukanlah demokrasi walaupun keduanya jelas sekali perbedaannya.

Meminjam istilah Dr. Adian Husaini, istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sementara sistem khilafah berbeda dengan keduanya.

Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan keduanya, kata  Adian, jelas tidak tepat.

Masih menurut Dr. Adian, dakwah Islam ini juga bisa berkembang karena demokrasi yang menerapkan kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir juga bisa berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi; seperti di Indonesia, AS, Inggris, dsb, karena ada demokrasi dan hak menyatakan kebebasan berpendapat.

Bandingkan dengan di Arab Saudi dimana HT tidak bisa bebas bergerak. Karena itu, demokrasi memang harus dimanfaatkan, selama tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan saat HTI menjadi ormas, itupun juga sedang memanfaatkan sistem demokrasi, karena sistem keormasan di Indonesia memang “demokratis”.

Permasalahan kita bukan semata-mata karena sistemnya yang rusak. Tapi lebih kepada penguasa kita yang rusak. Bukankah,  kemungkinan besar sistem yang rusak bisa diperbaiki oleh penguasa yang benar dan mustahil sebaliknya. Maksudnya sistem yang benar saja bisa jadi rusak oleh pemimpin yang tidak benar apalagi sistemnya sudah rusak dari sananya.

HTI dan Pemilihan Gubernur DKI

Nah, momentum pemilihan gubernur DKI menjadi wasilah (sarana) yang seharusnya baik bagi HTI untuk ikut terlibat melahirkan cita-cita pemimpin Muslim, setidaknya itu dulu sebelum adanya khilafah.

Jika tidak, sikap memilih diam bagi HTI itu jauh lebih mulia daripada sikap ambigu yang berpotensi salah paham dan ujungnya melahirkan pecahnya ukhuwah di kalangan umat Islam sendiri.

Seperti kasus Wali Kota Bogor Bima Arya dan HTI, dimana sikap ambigu antara menolak demokrasi di satu sisi, namun menikmati buah demokrasi di lain sisi. Inilah bentuk perhatian penulis pada HTI.

Momentum pemilihan gubernur DKI Jakarta ini juga bisa saja menjadi ajang persatuang umat Islam Indonesia. Sebuah gagasan yang cerdas yang diberi nama konvensi gubernur Muslim,  yang pemilihan penguasa diserahkan dan dibimbing oleh para alim ulama dan Habaib, termasuk para tokoh dan cendekiawan Muslim. Mereka ditampilkan lebih banyak ketika kepentingan politik memerlukannya.

Kita sadari bahwa, sudah lama umat Islam trauma terhadap hukum (baca: peraturan perundang-undangan) yang dibuat dan merugikan umat. Karena memang hukum adalah produk politik. Tentunya lebih berpihak pada mereka yang memiliki kekuasaan (power).

Realita selama ini memang kekuasaan itu masih belum dekat dengan umat. Kekuasaan yang absolut, ternyata juga lebih dekat dengan penyalahgunaan wewenang (abuse of power), seperti perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme.

Lebih istemewa lagi, usaha-usaha umat memilih gubernur Muslim adalah langkah yang perlu didukung. Artinya, persatuan umat lebih mudah dieratkan. Jika kita selama ini sering terkotak-kotak karena perbedaan mazhab, kemungkinan besar kita bisa bersatu dengan satu pemimpin yang dipilih oleh para orang berpengaruh tadi.

Masalah Jakarta di masa depan bukan hanya tentang “Muslim pilih Muslim”, tapi tentang membangun Jakarta. Bukan “pembangunan” fisik model jalan tol, fly over, kereta cepat atau sekolah. Tetapi lebih kepada “pembangunan” manusia, menjadi manusia seutuhnya. Selaras pesan “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” dalam lirik Indonesia Raya.

Membangun manusia yang anti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Membangun manusia yang beradab. Membangun manusia yang bermanfaat bagi negara dan umat manusia seluruhnya. Membangun manusiaseutuhnya.

Kita berharap dari Jakarta lahir keadilan, yang membuat persatuan, hingga menjadi kekuatan. Dan karena lahir dari ibu kota, maka mudah menyebar ke daerah-daerah. Bahkan, dapat mempengaruhi negeri ini. Membangun adab, akhlaq, rasa adil adalah nilai nilai islam dan bagian dari syariah, sesuai cita cita HTI melahirkan khilafah. Kita mulai dari Jakarta!

___
*Penulis alumni Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Jogjakarta tahun 2015. Rubrik MIMBAR dikhususkan untuk para santri, pelajar, mahasiswa dan penulis pemula

Sumber: Hidayatullah

Abi... Umi... Bimbinglah Aku

......
Ingin Berapa Lama Hidup dengan Anak Kita?

Usia 20 tahunan, kita keluarga, menikah, punya anak, mendampingi masa balita hingga sekolah dasar.
Oh, lucunya mereka...

Usia 30 tahunan, kita menemukan anak anak ternyata sudah remaja, jatuh cinta, mulai banyak keluar rumah.
Oh cantik dan gantengnya mereka...

Usia 40-an, mereka menggapai cita, kuliah, makin jauh dari orangtua, berasrama, kos, atau di rumah, tapi mereka makin banyak keluar rumah.
Allah, jagalah mereka...

Usia 50-an Kita menemukan mereka semakin jauh dari kita, ingin mandiri, ingin membentuk keluarga sendiri.
Lalu, mereka hadirkan bayi lagi di pangkuan tangan kita yang mulai keriput.

Kita pun berkata "Ya Allah .. Betapa singkatnya hidup ini. Jangan kami termasuk orang yang sia sia kan kehidupan. Lindungi keluargaku. Anak keturunanku dari siksa dunia dan akhirat"

Kalau begitu...
Usia hidup kita tak berulang, kan?
Kalau begitu, usia, anak kita pun tak berulang kan?
Kalau begitu, sangat singkat kan mendampingi anak-anak kita, kan?

Kalau begitu, jangan pernah ridha wahai para Orangtua
Jika anak kita bisa mengenal huruf-huruf Al-Quran, bisa membacanya, bisa mempelajari nya
Hasil dari tangan orang lain
Tanpa ada campur tangan kita...

Kalau begitu, cemburu rasanya
Jika anak kita hanya mau belajar dengan guru disekolahnya,
Tapi tak mau dengan kita orangtuanya.

Kalau begitu, harus tidak nyamanlah hati kita
Jika anak kita disuruh mengerjakan PR dengan guru lesnya bukan dengan kita orangtuanya.

Kalau begitu, harus "sakit" hatilah kita
Jika anak kita menceritakan lawan jenis yang disukainya kepada teman sebangkunya, tapi tidak kepada kita orangtuanya.
Mengapakah mereka begitu percaya pada temannya, tapi tidak pada kita orangtuanya?

Kalau begitu, saat terbujur kaku
Jangan marah ya, jika anak kita meng-wakil-kan shalat jenazah
Hanya kepada ustadz dan ustadzah, sedangkan mereka sendiri tak bisa bacaan nya.

Ayah... Bunda
Ayolah beri manfaat waktu kita...
Sedikit saja untuk anak kita.
Bukan sekedar uang jajanan atau mainan semata.
Itu semua penting.
Tapi, kesungguhan kita sebagai orangtua akan memberikan dampak berbeda untuk anak anak kita...
Sesungguhnya kitalah sang pembelajar dan menjadi Uswah bagi mereka...

Jangan seperti peribahasa
"Semut disebrang laut nampak, Gajah di pelupuk mata tidak nampak"
Selalu menyalahkan orang lain baik itu Anak, Guru dll dan menganggap diri kita selalu benar.... Na'udzubillah

Diambil dari buku 7 Kiat Orangtua Shalih Menjadikan Anak Disiplin dan Bahagia (Seri #2 Yuk, Jadi Orangtua Shalih) dengan beberapa tambahan....

Analisa Sederhana: Kejanggalan Data KPK Watch

OPINI | 03 April 2014 | 09:21 Dibaca: 5043   Komentar: 6   2
Beberapa waktu yang lalu, saya blog walking dan menemukan sebuah ulasan menarik mengenai data korupsi yang akhir-akhir ini ramai dibincangkan ke-valid-annya. Beberapa data grafik korupsi parpol yang mencantumkan sumber dari KPK Watch bertebaran di sosial media. Berdasarkan kicauan di lini masa KPK Watch (@KPKWatch_RI), dapat dikatakan bahwa KPK Watch mengambil data korupsi parpol dari website Indonesian Coruption Watch (ICW). Namun pihak ICW menolak bahwa data tersebut bersumber dari website nya..
Saya pun mencoba stalking ke lini masanya Sahabat ICW. Dan menemukan anjuran sebagai berikut..
1396489572641258478
Kemudian saya masuk ke link ini:
Ada yang menarik, salah satu artikel yang ada di link ini adalah tentang Jokowi, beliau sangat memuji2 jokowi, apakah beliau pendukungnya? atau pendukung PDIP?  wallahu ‘alam.
Saya sempat capture agar tak dituduh hoax.. Hehe..
13964897001968930112
Well, untuk hal ini, saya mencoba berpandangan objektif. Saya rasa kita semua sepakat, bahwa korupsi adalah penyakit kronis yang sudah mendarah daging di negara kita, Indonesia.
Kita kembali membahas link yg direkomendasikan ICW. Ternyata link itu mengkritisi rilis KPKwatch tentang partai-partai korupsi, namun menurut saya,sangat tidak substansial dan cenderung emosi.
Mari simak redaksi kalimatnya :
13964898241273083458
Saya rasa, sangat penting kita mengukur prestasi korupsi mulai cikal bakal kelahiran KPK pada tahun 2002, meskipun disahkan oleh presiden tahun 2003 dengan nama Komisi Pemberantasan Korupsi.
Periode pengukuran 2002 – 2014 sangat ideal. Sejatinya tidak bisa dipisahkan kedua rentang waktu itu. Jangan sampai partai politik membuat rilis tahun 2009 – 2014, karena amat sangat jelas ini akan menihilkan korupsi dibawah tahun 2009 yg sangat banyak.
Saya sangat sependapat dengan tulisan mba novi bahwa ada 2x pemilu, sehingga jika kita ingin membuat index korupsi, pembagi 2 periode harus memasukkan data jumlah pemilih tahun 2004 dan 2009.  Nah, kenapa KPKwatch_RI hanya memakai data 2009, apa ada data yg disembunyikan ?
Sebelum menjawab data yg disembunyaikan KPKwatch_RI, saya coba lihat ada twit2 KPKwatch dengan Gerindra:
1396490158416372009
Entahlah. Semoga saya salah karena menganggap ini sebagai “kedekatan” KPKwatch_RI dengan Gerindra
13964902131952731960
Menurut saya, sangat jarang jika akun-akun ber-genre serius terlihat seperti berdialog.  Twit tersebut berasal dari relawan Prabowo tentang KPKwatch_RI, yang sekilas memang professional.
Jika KPKwatch_RI di backup oleh LIPI dan mahasiswa aktifis anti korupsi. Keren juga ya..
13964902661726476945
Bagi saya pribadi, siapapun yang ada dibelakang KPKwatch, seharusnya semakin menyadarkan kita untuk bicara dengan data. Sampai di sini data KPKwatch_RI bisa dibilang valid, karena setelah saya coba cek link-link yang di share di TL twitternya, maupun nama-nama yang dishare di kasusnya, memang benar ada dan valid.
Misalnya grafik ini :
13964907121416488052
Yang saya tangkap dari analisa dan ‘keluhan’ Mbak Novi adalah index, dan nama jabatan. Untuk index, saya setuju agar KPKwatch_RI memperbaiki dengan bilangan pembagi hasil pemilu 2004 dan 2009. Karena jika hasil Index korupsi hanya di bagi tahun 2009, maka hasilnya seperti rilis KPKwatch_RI berikut ini:
13964907321737183083
Namun, jika saya bagi dengan jumlah pembagi hasil pemilu 2004:
13964908911013067269
Dan Pemilu 2009:
13964909061257570925
Maka saya mendapatkan hasil index menurut perhitungan saya sebagai berikut:
13964909341767076748
Nah… Jika kita urutkan sesui index terbesar korupsi dan terendah, maka hasil yang didapat adalah sebagai berikut:
13964909672114452567
Tak bisa dipungkiri, bahwa yang index tertinggi korupsi masih di tempati PDIP. Selanjutnya ditempati partai baru Gerindra dan Hanura.  Yang jadi pertanyaannya adalah, ‘Mengapa KPKwatch hanya gunakan data tahun 2009 ?” Kayaknya mulai terbongkar nih..  Hehehe..
Hemat saya, sebenarnya tanpa KPKwatch_RI merilis Index, sudah cukup mengetahui siapa partai terkorup, namun index yg dikeluarkan itu terlihat lebih adil, kenapa?  karena tidak bisa disamakan besarnya 10 korupsi yg dilakukan partai besar dengan 10 korupsi yg dilakukan partai kecil.
Mari kita perdalam lagi analisanya.. Mbak Novi juga menggugat tentang keterangan “Mantan Kades” dan “Gunung Kidul”, juga “Ketua MK” :
13964910331166074239
Setelah saya cek, Ketua MK adalah kader Golkar, wajar beliau dimasukkan list kasus di kader golkar, nama Gunung kidul, setelah saya coba telusuri, maksudnya adalah anggota Dewan DPRD Gunung Kidul.
1396491098864870719
Semoga kita bisa sependapat, bahwa keterangan Gunung Kidul dalam grafik tersebut sebagai salah ketik tim KPKwatch.
Lalu, ini :
13964911281871846091
Setelah saya coba googling, ternyata, mantan Kades Manis Kidul yg ada di list Partai Hanura, adalah Caleg Hanura. Ini Buktinya :
13964911871598953345
Lagi-lagi yang dikritisi hanyalah tentang keterangan jabatan dari nama pelaku korupsi saja. Padahal, jika kita mau mencari tahu lebih jauh, maka akan terlihat kasus yang sebenarnya.  Saya rasa bukan maksud tim KPKwatch untuk membuat grafik tersebut menjadi absurd dengan analisa-analisa ringan yang dibuat oleh Mbak Novi dalam blog-nya.
Namun, saya sedikit berterima kasih kepada pembuat analisis di blog tersebut. Karena telah membuat saya menjadi penasaran, dan berusaha untuk mencari lebih jauh tentang nama-nama yang ada dalam grafik yang dirilis KPK Watch. Yang ternyata, ketika kita cek, kasus itu memang betul-betul ada dan terjadi di dunia nyata dan tersiar di dunia maya.

http://politik.kompasiana.com/2014/04/03/analisa-sederhana-kejanggalan-data-kpkwatch-644252.html

Beruntungnya Partai Korup di Negeri Ironisia

Bismillah …
Kita sepatutnya mengapresiasi kerja tim Indonesia Corruption Watch (ICW) yang menyajikan data informasi korupsi di website resminya: http://antikorupsi.org/ sehingga berbagai elemen masyarakat bisa mengambil data korupsi dengan mudah, lalu membuat resume. Inilah keterbukaan informasi, sehingga semua orang bisa membuat data dan grafik sendiri “base on” himpunan berita yang ada.
Ada hal menarik, ketika ada bagian dari elemen masyarakat merilis tabel dan grafik partai korup melalui akun twitter @KPKwatchRI, dengan dasar utama yang dipakai dalam penyusunannya adalah situs ICW. Tabel dan grafik tersebut adalah sebagai berikut:
partai korupsiUpdate Maret 2014 | Versi sebelumnya di sini

dan Tabel Besar Kerugian Negara:
partai korupsi

Kemudian, Indeks Partai Korupsi berdasarkan hasil Pemilu 2009:
Partai KorupsiUpdate Maret 2014 | Versi sebelumnya di sini

Tabel dan grafik di atas juga diikuti dengan detail nama-nama politisi pada masing-masing partai. Setelah rilis tersebut tersebar luas, ternyata mendapat bantahan dari ICW melalui akun twitter @sahabatICW yang menyatakan bahwa rilis tersebut bersifat HOAX [Twit 1] dan [Twit 2].
Tidak dijelaskan, hoax-nya di bagian mananya. Namun, menurut penilaian saya, pencantuman logo ICW pada tabel dan grafik yang dibikin @KPKwatchRI adalah tidak pada tempatnya, kecuali sebelumnya mereka berkolaborasi dalam penyusunan dan ada kesepakatan bersama. Tim @KPKwatchRI telah menyampaikan alasan bahwa pencantuman logo ICW adalah bentuk apresiasinya atas keterbukaan informasi yang dilakukan ICW terhadap websitenya [Twit 3]. Mereka menganggap bahwa hal tersebut adalah bagian dari prinsip / etika jurnalisme secara umum, yaitu jika mengambil bahan / data harap mencantumkan sumbernya. [Twit 4]. Itu betul, mereka telah menampilkan sumbernya, namun tidak tepat untuk pemakaian logo organisasi, ada aturan bakunya sehingga tidak sembarangan ditempatkan dalam bagian publikasi. Semoga ini menjadi masukan bagi tim @KPKwatchRI yang telah mempunyai niat baik mencerdaskan masyarakat melalui budaya: Speak with data / fact.
Namun demikian, saya tetap mengapresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras tim @KPKwatchRI yang membuat publikasi tersebut. Resume yang mereka himpun menurut saya BUKAN HOAX, karena sumbernya jelas, nama-nama koruptornya mudah ditelusuri [lihat daftarnya di Halaman 2 jurnal ini].
Saya coba rangkum dari chirpstory, tentang bagaimana tim @KPKwatchRI melakukan proses pengambilan data dari website resmi ICW antikorupsi.org untuk mendapatkan tabel partai-partai korup. Urutan prosesnya sebagai berikut:
  1. Buka website ICW antikorupsi.org, di situ ada “Search” dan “Dokumen”.
  2. Kemudian Download data ICW yang ada di menu “Dokumen”.
  3. Ada menu “Search” yang bisa kita isi dengan 2 suku kata, maka siapkan kata pencarian 2 suku kata tersebut untuk mencari kasus korupsi pada periode tersebut. Contoh: kita search dengan kata “Bupati Korupsi”, maka akan didapat puluhan berita bupati korupsi. Coba search dengan kata “Korupsi APBD” akan muncul puluhan link berita korupsi.
  4. Kemudian catat Nama, Jabatan, Kerugian negara, Kasus, Partai, Status yang ada di link hasil pencarian tersebut.
  5. Kemudian pisahkan berdasarkan partai, sehingga jelas hasilnya, seperti grafik dan tabel di sini.
  6. Ricek kembali nama-nama tersebut di website berita online lain untuk keakuratan data.
  7. Dari ribuan berita kasus korupsi, di dapatkan 300an nama kader parpol tersangkut. Setelah dipisahkan didapatkan hasilnya seperti ini.
  8. Selanjutnya dikembangkan dalam bentuk tabel atau grafik.
  9. Kelemahan, ada sekitar 1-2% data yang mungkin tidak masuk, atau seharusnya tidak masuk.
  10. Sangat mungkin ada nama misal: A mendapat vonis/status tersangka. Dalam prosesnya dibebaskan hakim, namun tidak diberitakan media. Jika terjadi hal demikian, mereka segera melakukan klarifikasi pemulihan. Untuk itu ditunggu masukan dari publik follower @KPKwatchRI.
Kita perlu mengacungkan jempol atas kerja keras tim @KPKwatch_RI yang berani me-resume data dan merilisnya. Itu bukanlah hal yang mudah, perlu ketelitian karena harus bisa dipertanggung-jawabkan. Kabarnya, tim @KPKwatchRI juga akan meneliti website http://infokorupsi.com/ untuk membuat ranking serupa sebagai pembanding. Mari kita tunggu rilisnya.
[Update 12 Maret 2014: Tim KPK Watch RI sudah merilis update grafik tersebut lebih lengkap berdasarkan hasil resume-nya pada polri.go.id, mahkamahagung.go.id, infokorupsi.go.id, kpk.go.id, korupedia.org, kejaksaan.go.id]
Jika kemudian ICW mengeluarkan rilis partai korupsi periode 2002-2014, mungkin hasil persentase tidak berbeda jauh dengan yang dimiliki tim @KPKwatchRI. Mengingat pada tahun lalu, ICW telah merilis kondisi partai korup pada periode tahun 2013, dengan hasil sebagai berikut:

Itulah fakta tentang partai juara korupsi, sepertinya beda jauh dengan anggapan masyarakat selama ini (terutama yang rendah tingkat pendidikannya atau tidak melek internet) tentang partai korup akibat keracunan persepsi media.
Pemilu tinggal dua bulan lagi, namun sampai sekarang ICW belum merilis data resume secara lengkap seperti yang dilakukan tim @KPKwatch_RI. Apakah ICW belum bisa menerima fakta bahwa partai paling korup ternyata bukan partai yang selama ini mereka persepsikan buruk, yang mereka kritik habis-habisan, tidak peduli benar atau salah sumbernya.
Ingat, dulu ICW pernah membabi buta menyerang, mendiskreditkan, dan mewacanakan pembubaran partai yang mereka persepsikan paling korup. [sila baca di sini]. Tampak ngawur sekali, tidak paham UU parpol, berwacana dengan tidak merasa perlu data dan sumber. Justru partai yang diserangnya itu faktanya malah paling buncit index korupsinya.
Oleh karena itu, mari kita dorong ICW atau KPK membuat rilis partai korup untuk masa depan RI yang lebih baik. Mari jadikan ini perhatian kita bersama agar korupsi bisa hilang dengan sebenarnya, dengan berhati-hati pada partai korup. ICW sudah ditantang tim @KPKwatch_RI untuk mengeluarkan resume data partai korup menjelang pemilu ini. Berani tidak?!
Sebelum terlalu dini bilang Hoax, mestinya ICW berterimakasih karena sudah dibantu menyusun dan me-resume data partai korup, tinggal lihat satu per satu data dari tim @KPKwatch_RI. Silakan check saja, cocokkan nama-namanya. Yang keliru diluruskan dengan baik. Jangan melihat siapa yang bicara, validasi saja datanya, tinggal googling, informasinya umum. Gampang, bukan?!
Kita semua pun juga bisa mem-validasinya sendiri, tidak harus menunggu rilis ICW. Kita mempunyai tanggung jawab moral untuk menyampaikan data yang sebenarnya tentang korupsi di negeri ini, untuk diberantas bersama-sama, tanpa pandang bulu dan tebang pilih. Sudah saatnya masyarakat luas dicerdaskan dengan data dan fakta, bukan dijebak dengan opini atau persepsi media. Tanpa penyajian data dan fakta, semua pihak akan dengan bebas melakukan penyesatan opini.
Beruntungnya Partai-Partai Juara Korupsi
Media-media corong parpol jawara korupsi sudah sering terlihat berusaha menyesatkan opini, mengeliminasi isu korupsi agar tidak terkesan berimbas pada partainya. Saat kasus korupsi terungkap, sebisa mungkin untuk tidak terlalu vulgar menyebut nama partainya. NAMUN kalau yang korupsi adalah berasal dari parpol lawan politiknya, meski masih berstatus terduga sekalipun, akan di-blow up habis-habisan oleh jaringan media partisannya, dibicarakan terus sepanjang tahun. Seakan-akan partai itulah yang paling korup, kalau perlu kehidupan rumah tangga kader-kadernya ditelanjangi, hingga mengakar buruk dalam persepsi masyarakat. Fokus di masyarakat saat ini sudah tergambar seperti ini:

Sumber gambar: FP FB Ironisia
Let’s speak with data / facts, sebab kinerja hanya bisa dinilai dengan data-data, sedangkan citra bisa dibentuk atau dihancurkan oleh opini.
Sekarang Anda sudah tahu faktanya.
Tahun 2014, Jangan Golput ya. Golput alias Golongan Putus asa sudah terbukti tidak merubah keadaan.
Bicara tentang perubahan, ada pencerahan dari Pak Ganjar Widhiyoga (kandidat doktor ilmu hubungan internasional) yang menarik untuk disimak: Apalah arti sebuah golput?
Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
http://iwanyuliyanto.wordpress.com/2014/02/15/keberuntungan-jawara-partai-korup-di-negeri-ironisia/

[Rahasia Didalam Senyum]


Senyum mungkin bagi kita adalah hal yang sederhana dan mudah, cukup menarik sudut bibir ke arah samping dan menampakkan gigi. Namun tidak sesederhana itu, kadang tersenyum saat-saat tertentu sangatlah sulit. Terlebih jika kita tidak “mood” untuk tersenyum. Namun senyum juga dipercaya dapat membuat awet muda. Dan diantara keunikan senyum yg lainnya ialah : ¤ Senyum membuat kita lebih menarik. Kita akan selalu tertarik pada orang yang selalu tersenyum. Orang yang selalu tersenyum punya daya tarik tersendiri. Wajah yang berkerut, cemberut, membuat orang menjauh dari kita , tetapi sebaliknya senyum bisa membuat mereka tertarik. ¤ Senyum mengubah mood kita. Ketika kita merasa jatuh atau “down” cobalah untuk tersenyum. Mungkin saja mood kita akan berubah menjadi lebih baik (tapi tentunya ada hal yg membuat kita tersenyum). ¤ Senyum dapat merangsang orang lain tersenyum. Ketika seseorang tersenyum maka senyum tersebut akan membuat suasana menjadi lebih cerah, mengubah mood orang lain yang ada disekitarnya dan membuat semua orang menjadi senang. Orang yang suka tersenyum membawa kebahagiaan buat orang yang ada di sekitarnya. Murah lah tersenyum maka anda akan disukai oleh banyak orang. ¤ Senyum dapat mengurangi stress. Stress secara nyata dapat muncul di wajah anda. Senyum membantu mencegah kesan bahwa kita sebenarnya sedang lelah atau merasa “down”. Jika anda sedang stress cobalah untuk tersenyum, maka stress anda akan berkurang dan anda akan merasa lebih baik untuk membuat langkah selanjutnya. ¤ Senyum meningkatkan sistem imun (kekebalan) tubuh anda. Senyum dapat membantu kerja imun tubuh agar dapat bekerja dengan baik. Ketika anda tersenyum, fungsi imun meningkatkan kemungkinan anda menjadi lebih rileks. ¤ Senyum menurunkan tekanan darah anda. Ketika anda tersenyum, maka tekanan darah anda akan menurun. Jika anda tak percaya, anda boleh mencobanya sendiri, jika anda memiliki alat pengukur tekanan darah di rumah anda. ¤ Senyum mengeluarkan endorphins (pereda rasa sakit secara alami) dan serotonin. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa senyum dapat merangsang pengeluaran endorphin, pereda rasa sakit yang alami, serta serotonin. Senyum memang obat yang alami. ¤ Senyum dapat melenturkan kulit wajah dan membuat anda terlihat lebih muda. Otot-otot yang digunakan untuk tersenyum ikut membuat anda terlihat lebih muda. Jika anda ingin sesuatu yang beda, maka berikan senyum anda sepanjang hari, maka anda akan terlihat lebih muda dan merasa lebih baik. ¤ Senyum membuat anda tampak sukses. Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri dalam menjalani hidupnya. Cobalah tersenyum saat anda melakukan pertemuan dan saat ada janji. Rekan-rekan kerja, sahabat, orang-orang terdekat anda akan merasakan sesuatu yang berbeda. ¤ Senyum membuat anda tetap positif. Senyumlah! Lalu sekarang cobalah berpikir sesuatu yang negatif tanpa berhenti tersenyum, Sulitkan? Karena ketika anda tersenyum maka senyum tersebut akan mengirimkan sinyal ke tubuh anda bahwa “hidup anda saat ini baik-baik saja”.
¤ Dan senyum juga merupakan suatu ibadah. Sedekah yang paling mudah.
Tapiiiiii,,,,, hati2 jangan suka senyum2 sendiri kalau di jalan. Nanti orang lain fikir kalau obat kamu habis ^_^
SEMOGA BERMANFAAT http://goo.gl/qnRRNy
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. KISAH HIDUPKU.... - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger