-Ganti almt yg url merah di atas dgn url yang tadi anda buat di http://code.google.com/hosting/
Latest Movie :


Recent Movies

"Ini Bukan Sengketa, Ini Cinta, Ini Cara Kita Saling Menjaga" by @Fahrihamzah

malam ini,
kisah ku mengguncang mu..
kau merasa kita seperti akan berpisah...

kau mendengar seolah aku akan pergi
dan tak akan pernah kembali...

aku melihatmu terpukul...
bersedih.. kata-kata mu tertahan..
terbata-bata...

kau seperti sulit mengungkap perasaan...
bulir-bulir hangat itu mulai mengalir...

aku ingin menenangkanmu sahabat...
jangan bersedih...
lerai airmatamu...

aku ingin mencintaimu tetap seperti dulu..
seperti pelepah dan bulir-bulir...
seperti embun dan ilalang pagi yang dingin..

kau bertanya,
inikah takdir kita dan di sini kah ia berakhir?

aku jawab tidak,
inilah perjalanan kita dan ia akan terus mengisi hari-hari...

perjalanan kita kaya,
perjalanan kita penuh romantika...
aku takkan lupa di mana kau berada...
pada hari ia bermula...

kita disebut ikhwan muda,
dan kita duduk bersama..
dalam halaqah kita..
di halaman kampus kita.

kita menghafal alquran...
kita mendalami sunnah dan kehidupan tauladan..

kita mendengar dan bertukar fikiran...
atas risalah akhir zaman.

kita membaca tanda-tanda zaman...
kita membahas dialektika kehidupan. .
teori sosial dan sastra perubahan. ..

hingga ia dianggap sempurna menjadi bekalan...dan kita terjun ke lapangan..

kini kita telah jauh...
berada di sini...
setelah setahap kesempurnaan.

kita memulai
kita meniti...dan..
kita terus belajar menjadi insan..
menjadi yang datang untuk perbaikan..

maka aku tidak maksudkan ini ..
kecuali untuk perbaikan.

jangan bersedih sahabat...
jangan takut dengan jarak...
dunia ini bulat...

perputaran adalah hukum alam...yg bergantian...
ditiup angin...diseret arus pasang..

aku berjanji takkan pergi...
jika kita terpaksa pergi aku akan menjadi yang terakhir...

aku akan bertahan...
ini rumah ku...
ini rumahmu
ini rumah kita...

seberapa kuat aku akan menjaga ini semua...sekuat kau...sekuat kita semua...

tetapi ini bukan sengketa...
ini cinta...inilah cara kita saling menjaga...

tetapi jika ia adalah benci...
terbakarlah kita semua jadi debu...

aku berlindung kepada Allah dari benci yang membakar hati...

aku tidak punya kehendak lain kecuali kebaikan...dan perbaikan..

hanya itu....

bersabarlah kawanku...
aku mendoakanmu...

___
*dari Twitter @Fahrihamzah, Senin malam (4/4/2016)

Israel Tekan Twitter Untuk Menutup Akun-akun Pengikut Hamas

Sumber-sumber media Zionis memberitakan negara penjajah Zionis sedang mengerahkan upaya besar untuk menekan para pejabat Twitter agar menutup akun-akun para pengikut Gerakan Hamas, di antaranya adalah akun jurubicara Brigade al-Qassam.

Surat kabar Zionis “The Source”, Ahad (3/4), menyatakan bahwa Twitter telah menutup akun Brigade al-Qassam yang berbahaya Inggris (yang jumlah pengikutnya sekitar 15 ribu follower). “The Source” juga menyatakan bahwaTwitter telah menutup akun Brigade al-Qassam yang berbahasa Arab (yang jumlah pengikutnya sekitar 140 ribu follower).

Al-Qassan Kecam Twitter

Divisi media Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, mengecam perusahaan Twitter yang menutup sejumlah akun resmi Al-Qassam yang berbahasa Arab dan Inggris. Hal itu dinilai sebagai bentuk keberpihakan jelas terhadap Israel, musuh utama Palestina.

Divisi media militer Al-Qossam menegaskan dalam pernyataannya kemarin Kamis (31/3), pada saat perusahaan Twitter memberikan mimbar bebas seluas luasnya kepada tokoh dan lembaga-lembaga penjajah Israel yang mengeluarkan pernyataan dan sikap rasis, ekstrem, dan bernada teroris, Twitter justru untuk ketiga kalinya secara berturut-turut selama dua pekan menutup akun-akun resmi Al-Qassam. 

Al-Qassam menegaskan, apa yang dilakukan Twitter adalah pelanggaran jelas terhadap hak individu dan kelompok yang dijamin dinyatakan Twitter sendiri yang berjanji komitmen kepadanya. Hal itu dinyatakan Twitter di depan warga dunia. Sikap Twitter dengan memblokir ini sebagai bentuk keberpihakan jelas terhadap Israel dalam sebuah konflik yang seharusnya bersikap netral.

Al-Qassam menegaskan, misi Al-Qossam sendiri sudah sangat jelas isinya adalah pembebasan dari penjajahan rasis Israel dan mereka mampu menyampaikan misinya ini kepada dunia. Seharusnya Twitter mampu menyampaikan misi tersebut tanpa diskriminatif.

Al-Qassam meminta Twitter untuk komitmen terhadap yang pernah di umumkannya berupa prinsip-prinsip kebebasan terutama prinsip memberikan semua pihak untuk berinovasi dalam bidang pemikiran informasi dan terlibat langsung tanpa ikatan apapun. (infopalestina.com)

Berhenti Berbaik Sangka

By:Nandang Burhanudin
*
Anda pasti kaget dengan judul di atas. Tapi Anda pun pasti tersentak melihat fenomena fakta berikut:

(1) Ketika Hitler merajai Eropa. Kaum Yahudi banyak yang bersembunyi di masjid-masjid. Umat Islam secara sukarela memberikan identitas Muslim, agar kaum Yahudi terhindar dari genosida Hitler. Tapi kini? Yahudi yang sama justru membunuhi umat Islam di Palestina. Menjajah. Menghinakan. Masihkah mau memaafkan?
(2) Ketika Presiden Mursi berkuasa. Mursi menunjuk Jenderal As-Sisi sebagai panglima AB. Mursi memaafkan institusi militer dan mengajak rekonsiliasi nasional. Ajakan Mursi sangat positif. Tapi apa yang terjadi kemudian? As-Sisi menjalankan agenda Yahudi. Mursi dipenjarakan bersama puluhan ribu antikudeta. Dibunuh. Dibantai. Dibakar. Dunia diam. Adakah rekonsiliasi itu?
(3) Ketika reformasi 1998. Semua sepakat menyongsong Indonesia baru. Rakyat Indonesia memaafkan kroni-kroni Orde Baru, terutama di partai politik (PDIP, Golkar, PPP). Namun apa yang terjadi kemudian? Megawati dengan angkuh menjual Indosat. China yang di era reformasi dipermasalahkan. Semakin menggurita dengan korupsinya. Masihkan berbaik sangka?
(4) Ketika seorang Ustadz dituduh bagian dari sel Terorisme Indonesia oleh Metro TV. Sang Ustadz tidak menuntut balik, tapi memaafkan. Lalu apa yang terjadi kemudian? Metro TV ternyata bagian dari jaringan Yahudi Internasional, dengan mengutus wartawannya berjumpa Netanyahu, si haus darah penjagal rakyat Palestina. Metro TV pula yang selalu rajin memberitakan aktivitas Densus 88, yang membunuh Siyono, Ustadz aktivis Muhammadiyah. Masihkah berbaik sangka?
Memaafkan. Berbaik sangka. Sangat bagus di kala kita kuat. Tapi melakukannya di kala lemah tak berdaya, sama dengan membuka jalan kezhaliman terus menjadi tsunami yang mematikan. Oleh karena itu, saat ada kesempatan dan celah. Berhentilah husnuzhan kepada kaum yang tak layak dihusnuzhani. Sebagaimana berhenti memaafkan kepada kaum yang tak layak diberi pemaafan. Allah pun mengatur segalanya dengan proporsional.

Studi Banding Kasus Ahok Sumber Waras VS Kasus LHI

Studi banding antara kasus RS Sumber Waras yang melibatkan ahok selaku Gubernur DKI Jakarta; dengan kasus Impor Sapi yang disangkakan kepada LHI.

Kasus RS Sumber Waras:

Audit yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), selaku lembaga resmi auditor negara, menyatakan bahwa pembelian lahan yang bersertifikat hak guna bangunan itu telah merugikan daerah sebesar Rp 191 miliar. BPK juga menilai lahan yang dibeli pemerintah lebih mahal dibandingkan harga tanah di sekitarnya sehingga ada potensi kerugian sebesar Rp 484 miliar. (https://m.tempo.co/read/news/2015/12/07/231725579/bpk-berikan-audit-rs-sumber-waras-ke-kpk-ada-6-penyimpangan)

Meskipun jelas-jelas merugikan negara, KPK belum menetapkan Ahok sebagai tersangka hanya karena KPK belum melihat adanya NIAT jahat dalam kasus tersebut.

"Kami harus yakin betul di dalam kejadian itu ada niat jahat. Kalau hanya kesalahan prosedur, tetapi tidak ada niat jahat, ya susah juga," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (29/3/2016). (http://megapolitan.kompas.com/read/2016/03/29/22580791/KPK.Belum.Temukan.Adanya.Niat.Jahat.dalam.Kasus.Sumber.Waras)

Kasus Suap Impor Sapi-LHI:

Pada fakta persidangan terungkap bahwa uang Rp1,3 miliar, yang dalam dakwaan jaksa diperuntukkan untuk LHI, ternyata uang tersebut digunakan oleh Ahmad Fathonah (AF) untuk mengurus proyek PLTS di Kementerian Daerah Tertinggal sebesar 300 juta, kemudian untuk membayar uang muka pembelian mobil Mercy S200 sebesar Rp400 juta dan membayar biaya disain interior yang dipesan AF sebesar Rp495 juta.

Artinya.... di persidangan terungkap bahwa TIDAK satu rupiah pun uang yang dituduhkan oleh KPK yang diterima oleh LHI. Jaksa KPK hanya bisa membuktikan aliran dana tersebut ke AF, tapi TIDAK bisa membuktikan bahwa uang itu diterima oleh LHI.

Sekalipun demikian, tidak ada KERUGIAN NEGARA dalam kasus ini, karena kenaikan kuota impor sapi yang dijanjikan ke PT. Indoguna tidak pernah terjadi. Lagi pula, ini adalah bisnis antara swasta dengan swasta. Dimana kerugian negaranya?

Meskipun demikian Majelis Hakim Tipikor, bahkan sampai tingkat kasasi, menetapkan vonis 18 tahun penjara kepada LHI karena dianggap AKAN MENERIMA gratifikasi dalam kapasitasnya selaku Penyelenggara Negara. ‪(‎NIAT‬).

Atas vonis hakim tsb, Prof. Bagir Manan (mantan ketua Mahkamah Agung) menyampaikan pandangannya sbb:

“Uang itu belum sampai kepada Luthfi. Jadi, hanya asumsi kita saja. Kita percaya pada keterangan Fathanah bahwa uang itu untuk dia dan Luthfi tidak mengakui itu. Hukum tak boleh mengadili orang hanya berdasarkan keterangan satu orang tanpa bukti lain,” ujarnya.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pers ini menuturkan seandainya pun ada NIAT, maka NIAT itu tidak bisa digunakan untuk menghukum. “Niat kita mau kawin, apa kita sudah kawin? Kan tidak. Peristiwa hukum belum terjadi,” tambahnya.

KESIMPULAN:

- Kasus RS Sumber Waras: KERUGIAN NEGARA 191 miliar, NIAT tidak ada. Maka ini bukan korupsi.

- Kasus LHI-Impor Sapi: KERUGIAN NEGARA 0 rupiah, NIAT (katanya) ada. Maka ini adalah korupsi.

Lah.... sejak kapan NIAT menjadi dasar dakwaan, sedang KERUGIAN NEGARA diabaikan?

Saya memang tidak pernah belajar di fakultas hukum, tapi gak GOBLOK-GOBLOK banget soal ginian.

Nahkumu bi al-dzawahir. Jatuhkan hukum sesuai dhohirnya, bukan niatnya. Begitu kaidah hukum mengajarkan.

Jadi, KPK punya "NIAT" berantas Korupsi tidak? 

Mari tertawa di zaman yang makin edan ini.

(by Erwin Al-Fatih)

Studi Banding Kasus Ahok Sumber Waras VS Kasus LHI http://www.portalpiyungan.com/2016/03/studi-banding-kasus-ahok-sumber-waras.html

Antara HTI, Demokrasi dan Pemilihan Gubernur DKI

Oleh: Rofi Munawwar*

Bulan Februari  2016 media sosial diramaikan berita wali kota Bogor Bima Arya yang meresmikan kantor DPD Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Kompas.com bahkan dengan sinis, membuat judul “Hadiri Peresmian Kantor HTI, Bima Arya Dikritik Netizen”. Sedangkan, Sindonews dengan tajuk “Gara-gara Resmikan Kantor HTI, Warga Bogor Kecam Bima Arya”.

Tentu, hadirnya Bima Arya ke acara apapun hak yang bersangkutan. Apalagi ia adalah seorang pimpinan untuk orang banyak.

Hanya saja, yang menarik kehadiran Bima Arya pada acara HTI menjadi multi tafsir dan bisa melahirkan banyak pendapat.  Apalagi sebelumnya, dalam sebuah terbitan resmi, Buletin Al-Islam, HTI  pernah membuat judul (maaf) agak sinis, “Pepesan Kosong Pilkada Serentak” yang isinya menolak diselenggarakannya Pilkada.

Tulisan tersebut bahkan sempat menimbulkan kritik dari Cagub DKI Jakarta, Dr. Adhyaksa Dault.

Di masyarakat (utamanya di jagad Medsos),  kehadiran Bima Arya dalam peresmian Kantor HTI menjadi bahan tertawaan. Bukannya, Bima Arya adalah pejabat Kepala Daerah yang ditetapkan dari hasil Pilkada 2013?

Dalam situs resmi HTI juga, dijelaskan yang hadir dalam acara itu bukan hanya Wali Kota Bogor. Tampak hadir pula Ketua DPRD Bogor, Sekda Kota Bogor dan Danrem 061 Suryakancana.

“Kami memberikan support untuk memerangi kebathilan dan kemungkaran di Kota Bogor,” tegas Bima Arya yang bertindak sebagai keynote speaker acara tersebut. [Pemkot Bogor Bersinergi Bersama HTI Perangi Kemaksiatan, http://hizbut-tahrir.or.id, 10 Februari 2016]

Wajar muncul banyak pertanyaan. Ada apa dengan HTI? Apa mungkin sudah mulai lentur dengan sistem demokrasi yang selalu ia kritisi selama ini?

Selain itu, selama ini, sikap alergi HTI terhadap demokrasi sedikit banyak telah membuat banyak gesekan di dalam tubuh umat Islam sendiri. Sangat disayangkan HTI (yang sejauh ini saya kenal sangat kreatif dalam dakwahnya), dalam waktu yang bersamaan, banyak juga umat Islam yang nyinyir dengannya.

Penulis bukan bersikap anti dengan ide HTI yakni menegakkan Khilafah.  Sebab tak ada umat Islam sedunia yang menolak jika ada khilafah ditegakkan. Masalahnya, mengapa tidak memanfaatkan saja kehadiran demokrasi menjadi alat untuk tujuan utamanya. Tentu, soal inipun (demokresi, red) masih membutuhkan perdebatan panjang.

Penulis hanya berpendapat bahwa sesungguhnya lawan khilafah bukanlah demokrasi walaupun keduanya jelas sekali perbedaannya.

Meminjam istilah Dr. Adian Husaini, istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sementara sistem khilafah berbeda dengan keduanya.

Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan keduanya, kata  Adian, jelas tidak tepat.

Masih menurut Dr. Adian, dakwah Islam ini juga bisa berkembang karena demokrasi yang menerapkan kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir juga bisa berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi; seperti di Indonesia, AS, Inggris, dsb, karena ada demokrasi dan hak menyatakan kebebasan berpendapat.

Bandingkan dengan di Arab Saudi dimana HT tidak bisa bebas bergerak. Karena itu, demokrasi memang harus dimanfaatkan, selama tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan saat HTI menjadi ormas, itupun juga sedang memanfaatkan sistem demokrasi, karena sistem keormasan di Indonesia memang “demokratis”.

Permasalahan kita bukan semata-mata karena sistemnya yang rusak. Tapi lebih kepada penguasa kita yang rusak. Bukankah,  kemungkinan besar sistem yang rusak bisa diperbaiki oleh penguasa yang benar dan mustahil sebaliknya. Maksudnya sistem yang benar saja bisa jadi rusak oleh pemimpin yang tidak benar apalagi sistemnya sudah rusak dari sananya.

HTI dan Pemilihan Gubernur DKI

Nah, momentum pemilihan gubernur DKI menjadi wasilah (sarana) yang seharusnya baik bagi HTI untuk ikut terlibat melahirkan cita-cita pemimpin Muslim, setidaknya itu dulu sebelum adanya khilafah.

Jika tidak, sikap memilih diam bagi HTI itu jauh lebih mulia daripada sikap ambigu yang berpotensi salah paham dan ujungnya melahirkan pecahnya ukhuwah di kalangan umat Islam sendiri.

Seperti kasus Wali Kota Bogor Bima Arya dan HTI, dimana sikap ambigu antara menolak demokrasi di satu sisi, namun menikmati buah demokrasi di lain sisi. Inilah bentuk perhatian penulis pada HTI.

Momentum pemilihan gubernur DKI Jakarta ini juga bisa saja menjadi ajang persatuang umat Islam Indonesia. Sebuah gagasan yang cerdas yang diberi nama konvensi gubernur Muslim,  yang pemilihan penguasa diserahkan dan dibimbing oleh para alim ulama dan Habaib, termasuk para tokoh dan cendekiawan Muslim. Mereka ditampilkan lebih banyak ketika kepentingan politik memerlukannya.

Kita sadari bahwa, sudah lama umat Islam trauma terhadap hukum (baca: peraturan perundang-undangan) yang dibuat dan merugikan umat. Karena memang hukum adalah produk politik. Tentunya lebih berpihak pada mereka yang memiliki kekuasaan (power).

Realita selama ini memang kekuasaan itu masih belum dekat dengan umat. Kekuasaan yang absolut, ternyata juga lebih dekat dengan penyalahgunaan wewenang (abuse of power), seperti perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme.

Lebih istemewa lagi, usaha-usaha umat memilih gubernur Muslim adalah langkah yang perlu didukung. Artinya, persatuan umat lebih mudah dieratkan. Jika kita selama ini sering terkotak-kotak karena perbedaan mazhab, kemungkinan besar kita bisa bersatu dengan satu pemimpin yang dipilih oleh para orang berpengaruh tadi.

Masalah Jakarta di masa depan bukan hanya tentang “Muslim pilih Muslim”, tapi tentang membangun Jakarta. Bukan “pembangunan” fisik model jalan tol, fly over, kereta cepat atau sekolah. Tetapi lebih kepada “pembangunan” manusia, menjadi manusia seutuhnya. Selaras pesan “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” dalam lirik Indonesia Raya.

Membangun manusia yang anti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Membangun manusia yang beradab. Membangun manusia yang bermanfaat bagi negara dan umat manusia seluruhnya. Membangun manusiaseutuhnya.

Kita berharap dari Jakarta lahir keadilan, yang membuat persatuan, hingga menjadi kekuatan. Dan karena lahir dari ibu kota, maka mudah menyebar ke daerah-daerah. Bahkan, dapat mempengaruhi negeri ini. Membangun adab, akhlaq, rasa adil adalah nilai nilai islam dan bagian dari syariah, sesuai cita cita HTI melahirkan khilafah. Kita mulai dari Jakarta!

___
*Penulis alumni Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Jogjakarta tahun 2015. Rubrik MIMBAR dikhususkan untuk para santri, pelajar, mahasiswa dan penulis pemula

Sumber: Hidayatullah

Abi... Umi... Bimbinglah Aku

......
Ingin Berapa Lama Hidup dengan Anak Kita?

Usia 20 tahunan, kita keluarga, menikah, punya anak, mendampingi masa balita hingga sekolah dasar.
Oh, lucunya mereka...

Usia 30 tahunan, kita menemukan anak anak ternyata sudah remaja, jatuh cinta, mulai banyak keluar rumah.
Oh cantik dan gantengnya mereka...

Usia 40-an, mereka menggapai cita, kuliah, makin jauh dari orangtua, berasrama, kos, atau di rumah, tapi mereka makin banyak keluar rumah.
Allah, jagalah mereka...

Usia 50-an Kita menemukan mereka semakin jauh dari kita, ingin mandiri, ingin membentuk keluarga sendiri.
Lalu, mereka hadirkan bayi lagi di pangkuan tangan kita yang mulai keriput.

Kita pun berkata "Ya Allah .. Betapa singkatnya hidup ini. Jangan kami termasuk orang yang sia sia kan kehidupan. Lindungi keluargaku. Anak keturunanku dari siksa dunia dan akhirat"

Kalau begitu...
Usia hidup kita tak berulang, kan?
Kalau begitu, usia, anak kita pun tak berulang kan?
Kalau begitu, sangat singkat kan mendampingi anak-anak kita, kan?

Kalau begitu, jangan pernah ridha wahai para Orangtua
Jika anak kita bisa mengenal huruf-huruf Al-Quran, bisa membacanya, bisa mempelajari nya
Hasil dari tangan orang lain
Tanpa ada campur tangan kita...

Kalau begitu, cemburu rasanya
Jika anak kita hanya mau belajar dengan guru disekolahnya,
Tapi tak mau dengan kita orangtuanya.

Kalau begitu, harus tidak nyamanlah hati kita
Jika anak kita disuruh mengerjakan PR dengan guru lesnya bukan dengan kita orangtuanya.

Kalau begitu, harus "sakit" hatilah kita
Jika anak kita menceritakan lawan jenis yang disukainya kepada teman sebangkunya, tapi tidak kepada kita orangtuanya.
Mengapakah mereka begitu percaya pada temannya, tapi tidak pada kita orangtuanya?

Kalau begitu, saat terbujur kaku
Jangan marah ya, jika anak kita meng-wakil-kan shalat jenazah
Hanya kepada ustadz dan ustadzah, sedangkan mereka sendiri tak bisa bacaan nya.

Ayah... Bunda
Ayolah beri manfaat waktu kita...
Sedikit saja untuk anak kita.
Bukan sekedar uang jajanan atau mainan semata.
Itu semua penting.
Tapi, kesungguhan kita sebagai orangtua akan memberikan dampak berbeda untuk anak anak kita...
Sesungguhnya kitalah sang pembelajar dan menjadi Uswah bagi mereka...

Jangan seperti peribahasa
"Semut disebrang laut nampak, Gajah di pelupuk mata tidak nampak"
Selalu menyalahkan orang lain baik itu Anak, Guru dll dan menganggap diri kita selalu benar.... Na'udzubillah

Diambil dari buku 7 Kiat Orangtua Shalih Menjadikan Anak Disiplin dan Bahagia (Seri #2 Yuk, Jadi Orangtua Shalih) dengan beberapa tambahan....

Analisa Sederhana: Kejanggalan Data KPK Watch

OPINI | 03 April 2014 | 09:21 Dibaca: 5043   Komentar: 6   2
Beberapa waktu yang lalu, saya blog walking dan menemukan sebuah ulasan menarik mengenai data korupsi yang akhir-akhir ini ramai dibincangkan ke-valid-annya. Beberapa data grafik korupsi parpol yang mencantumkan sumber dari KPK Watch bertebaran di sosial media. Berdasarkan kicauan di lini masa KPK Watch (@KPKWatch_RI), dapat dikatakan bahwa KPK Watch mengambil data korupsi parpol dari website Indonesian Coruption Watch (ICW). Namun pihak ICW menolak bahwa data tersebut bersumber dari website nya..
Saya pun mencoba stalking ke lini masanya Sahabat ICW. Dan menemukan anjuran sebagai berikut..
1396489572641258478
Kemudian saya masuk ke link ini:
Ada yang menarik, salah satu artikel yang ada di link ini adalah tentang Jokowi, beliau sangat memuji2 jokowi, apakah beliau pendukungnya? atau pendukung PDIP?  wallahu ‘alam.
Saya sempat capture agar tak dituduh hoax.. Hehe..
13964897001968930112
Well, untuk hal ini, saya mencoba berpandangan objektif. Saya rasa kita semua sepakat, bahwa korupsi adalah penyakit kronis yang sudah mendarah daging di negara kita, Indonesia.
Kita kembali membahas link yg direkomendasikan ICW. Ternyata link itu mengkritisi rilis KPKwatch tentang partai-partai korupsi, namun menurut saya,sangat tidak substansial dan cenderung emosi.
Mari simak redaksi kalimatnya :
13964898241273083458
Saya rasa, sangat penting kita mengukur prestasi korupsi mulai cikal bakal kelahiran KPK pada tahun 2002, meskipun disahkan oleh presiden tahun 2003 dengan nama Komisi Pemberantasan Korupsi.
Periode pengukuran 2002 – 2014 sangat ideal. Sejatinya tidak bisa dipisahkan kedua rentang waktu itu. Jangan sampai partai politik membuat rilis tahun 2009 – 2014, karena amat sangat jelas ini akan menihilkan korupsi dibawah tahun 2009 yg sangat banyak.
Saya sangat sependapat dengan tulisan mba novi bahwa ada 2x pemilu, sehingga jika kita ingin membuat index korupsi, pembagi 2 periode harus memasukkan data jumlah pemilih tahun 2004 dan 2009.  Nah, kenapa KPKwatch_RI hanya memakai data 2009, apa ada data yg disembunyikan ?
Sebelum menjawab data yg disembunyaikan KPKwatch_RI, saya coba lihat ada twit2 KPKwatch dengan Gerindra:
1396490158416372009
Entahlah. Semoga saya salah karena menganggap ini sebagai “kedekatan” KPKwatch_RI dengan Gerindra
13964902131952731960
Menurut saya, sangat jarang jika akun-akun ber-genre serius terlihat seperti berdialog.  Twit tersebut berasal dari relawan Prabowo tentang KPKwatch_RI, yang sekilas memang professional.
Jika KPKwatch_RI di backup oleh LIPI dan mahasiswa aktifis anti korupsi. Keren juga ya..
13964902661726476945
Bagi saya pribadi, siapapun yang ada dibelakang KPKwatch, seharusnya semakin menyadarkan kita untuk bicara dengan data. Sampai di sini data KPKwatch_RI bisa dibilang valid, karena setelah saya coba cek link-link yang di share di TL twitternya, maupun nama-nama yang dishare di kasusnya, memang benar ada dan valid.
Misalnya grafik ini :
13964907121416488052
Yang saya tangkap dari analisa dan ‘keluhan’ Mbak Novi adalah index, dan nama jabatan. Untuk index, saya setuju agar KPKwatch_RI memperbaiki dengan bilangan pembagi hasil pemilu 2004 dan 2009. Karena jika hasil Index korupsi hanya di bagi tahun 2009, maka hasilnya seperti rilis KPKwatch_RI berikut ini:
13964907321737183083
Namun, jika saya bagi dengan jumlah pembagi hasil pemilu 2004:
13964908911013067269
Dan Pemilu 2009:
13964909061257570925
Maka saya mendapatkan hasil index menurut perhitungan saya sebagai berikut:
13964909341767076748
Nah… Jika kita urutkan sesui index terbesar korupsi dan terendah, maka hasil yang didapat adalah sebagai berikut:
13964909672114452567
Tak bisa dipungkiri, bahwa yang index tertinggi korupsi masih di tempati PDIP. Selanjutnya ditempati partai baru Gerindra dan Hanura.  Yang jadi pertanyaannya adalah, ‘Mengapa KPKwatch hanya gunakan data tahun 2009 ?” Kayaknya mulai terbongkar nih..  Hehehe..
Hemat saya, sebenarnya tanpa KPKwatch_RI merilis Index, sudah cukup mengetahui siapa partai terkorup, namun index yg dikeluarkan itu terlihat lebih adil, kenapa?  karena tidak bisa disamakan besarnya 10 korupsi yg dilakukan partai besar dengan 10 korupsi yg dilakukan partai kecil.
Mari kita perdalam lagi analisanya.. Mbak Novi juga menggugat tentang keterangan “Mantan Kades” dan “Gunung Kidul”, juga “Ketua MK” :
13964910331166074239
Setelah saya cek, Ketua MK adalah kader Golkar, wajar beliau dimasukkan list kasus di kader golkar, nama Gunung kidul, setelah saya coba telusuri, maksudnya adalah anggota Dewan DPRD Gunung Kidul.
1396491098864870719
Semoga kita bisa sependapat, bahwa keterangan Gunung Kidul dalam grafik tersebut sebagai salah ketik tim KPKwatch.
Lalu, ini :
13964911281871846091
Setelah saya coba googling, ternyata, mantan Kades Manis Kidul yg ada di list Partai Hanura, adalah Caleg Hanura. Ini Buktinya :
13964911871598953345
Lagi-lagi yang dikritisi hanyalah tentang keterangan jabatan dari nama pelaku korupsi saja. Padahal, jika kita mau mencari tahu lebih jauh, maka akan terlihat kasus yang sebenarnya.  Saya rasa bukan maksud tim KPKwatch untuk membuat grafik tersebut menjadi absurd dengan analisa-analisa ringan yang dibuat oleh Mbak Novi dalam blog-nya.
Namun, saya sedikit berterima kasih kepada pembuat analisis di blog tersebut. Karena telah membuat saya menjadi penasaran, dan berusaha untuk mencari lebih jauh tentang nama-nama yang ada dalam grafik yang dirilis KPK Watch. Yang ternyata, ketika kita cek, kasus itu memang betul-betul ada dan terjadi di dunia nyata dan tersiar di dunia maya.

http://politik.kompasiana.com/2014/04/03/analisa-sederhana-kejanggalan-data-kpkwatch-644252.html
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. KISAH HIDUPKU.... - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger