-Ganti almt yg url merah di atas dgn url yang tadi anda buat di http://code.google.com/hosting/
Latest Movie :


Recent Movies

Begini Terorisme dan Radikalisme “Dimainkan” Guna Hancurkan Islam


AntiLiberalNews – Alhamdulillah tabligh akbar dengan tema “Isu Terorisme dan Radikalisme Adalah Alat untuk Menghancurkan Islam” telah diselenggarakan di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Ahad (3/4/2016) siang tadi.
Dalam acara yang diselenggarakan Angkatan Muda Forum Ukhuwah Islamiyah ini, terdapat sejumlah poin penting yang harus dipahami Ummat Islam Indonesia, sebagaimana disampaikan Ustadz Mu’inuddinillah Basri dan Ustadz Mustofa B. Nahrawardaya.
Poin-Poin Kajian Ust.Muinuddinillah Basri, Ketua Dewan Syariah Kota Solo: • Indonesia didirikan oleh ummat Muslim, sehingga kita harus merasa memilikinya.
• Kita sebagai ummat Islam tidak boleh menginginkan kerusakan bagi negeri ini. Dan juga tidak boleh, tidak logis, bila menginginkan kerusakan bagi negri ini.
• Realitasnya, umat Islam dikorbankan, didiksriminasi dan dipojokan ingin meneror Indonesia. Padahal semua itu adalah dagangan orang-orang tertentu.
• Isu terorisme ini menjadi tempat mencari makan bagi sebgian orang yang punya sifat licik dan rakus (yakni) Yahudi yang dikutuk (sebagaimana dicatat dalam) al Qur’an.
• Sejak peristiwa WTC, sudah ada indikasi rekayasa. Ada banyak kejanggalan.
• Termasuk juga Bom Bali. Amrozi CS cuma bisa bikin bom kecil, yang meledak (sedahsyat) itu bukan punya mereka.
• AS butuh lawan pasca runtuhnya USSR. Islam dijadikan lawan baru. Cara menjadikannya lawan adalah dengan isu terorisme.
• Kami mengundang BNPT dan Densus 88, di UMS. Dan kami bongkar, duitnya dari musuh-musuh Islam.
• Dari AS, Aussie, dan Kristen fundamentalis, misal Tommy Winata.
• Anggota Densus, tidak punya belas kasihan ketika membunuhi ummat Islam. Mereka dididik untuk itu.
• Kita harus membedakan antara pejabat di TNI, Polri, yang punya nurani dengn mereka yang tidak bisa makan tanpa fitnah!
• Teroris itu, mereka yang bikin, mereka yang ciptakan, pelihara dan kasih duit.
• Ada laskar yang cerita, ada orang yang suka mengajarkan bom tapi tidak tersentuh aparat
Contoh lucu, ada yang rekruitmen ISIS dari penjara. Kok dibiarkan?
• Maka kami ingatkan pada aparat.. ada orang orang yang memanfaatkan institusi mereka untuk menfitnah ummat Islam, demi dapat uang! Demi makan!
• Ada 118 orang yang dibunuh tanpa pengadilan. Disebut teroris tidak dikenal.. apa ini ?
• Dalam Islam, ada kisah: bahkan Yahudi pun, dibela ketika dituduh tanpa bukti.
• Apalagi Imam Masjid yang dibunuh karna tuduhan yang blum diadili ?
• Kita tidak boleh membiarkannya. Aparat harus diingatkan.
• Bangsa ini masih punya nurani, maka mereka yang memegang posisi, hendaknya jangan mau jadi alat mereka yang mengorbankan kaum Muslimin hanya untuk cari makan.
• Allah akan menjadi pelindung bagi mereka yang membela kaum terdzalimi.
• Jihad adalah membela Islam ketika teraniaya, dan memajukannya ketika sudah jaya agar terjagamaqashid syariah. Salah satunya menjaga nyawa.
• Aksi seperti di Sarinah, tentu bukan jihad. Aksi di Brussel pun bukan. Sebab dampaknya justru merugikan ummat Islam.
• Perjanjian Hudaibiyah adalah kemenangan yang nyata. Islam tersebar lewat kedamaian.
• Maka marilah beraksi dengan berdasarkan ilmu.
• Jihad kita sekarang adalah membongkar kedzaliman di belakang Densus 88.

Poin-Poin Ust. Musthofa Nahrawardaya, Peneliti Terorisme, PP Muhammadiyah:
• Dari 10 WNI yang ditangkap di Turki karena mau membawa bantuan ke Suriah dan Turki. Saya salah satunya.
• Ini indikasi bahwa negeri-negeri Islam diadu domba, saya dikirim Indonesia, tapi ditangkap Densus Turki. Kita diadu domba.
• Misal, ada orang Uighur mati di Poso, ada orang asing lainnya. Mereka siapa yang bawa ke sini? Kapan masuk?
• Siapa yang merekam Santoso nyemplung di danau di Poso?
• Kasus lain, ada orang yang menggiring laskar ke Aceh, lalu diberikan senjata, lalu direkam oleh Sofyan Sauri. Semua laskar itu sekarang sudah mati diburu aparat.
• Siapa Sofyan Sauri ? Dia mengaku mantan Brimob. Senjata yang dia kasikan itu nilainya 400juta. Dari mana? Bahkan laskar-laskar lugu itu dilatih tembak di Brimob. Janjinya, akan dikirim ke Palestina untuk melawan “Israel”, mereka mau saja, dan akhirnya masuk jebakan.
• Jika ditanya adakah intel yang Islam? Saya tidak bisa jawab. Tapi jika ditanya adakah Densus yang Islam? Saya ragu apakah ada. Mengingat kejamnya mereka pada aktivis Islam.
• Saya sudah meneliti teroris sejak lama. Saya tanya wartawan apakah memang ada ‘baku tembak’? Dia bilang tidak. Saya tanya ke orang tua apakah anaknya yang disebut media baku tembak memang baku tembak? Kata ortunya, tidak ada!
• Kenapa mereka tidak bilang wartawan? Karena mereka sudah tanda tangan surat pernyataan bahwanggak boleh ngomong ke wartawan. Padahal anaknya ditembak lagi sholat. Masih ada potongan daging kepalanya di pojok ruangan.
Sumber info soal terorisme hanya dari satu sumber, Humas.
• Kasus Siyono akhirnya memecah kediaman ini. Wartawan mainstream mulai berani menulis dari sudut pandang korban Densus dan keluarganya.
Pak Din (Syamsudin) pernah diceramahi 2 jam oleh ketua BNPT. Pak Din cuma bilang “Sudah?”. Kepala BNPT menawarkan duit untuk deradikalisasi.
• Jawab beliau, ” Mohon maaf, Muhammadiyah menolak ini. Silakan pulang”. Kami sudah deradikalisasi sebelum Indonesia merdeka. Jika ada kader yang radikal, pasti disusupi.
• Di Kebayoran Baru, ada ssorang bernama N. Suatu ketika, ia dihubungi oleh seorang mengaku bernama Bashir, dia ngomong dengan bahasa “akhi… afwan, ana” .. Setahun dia didekati.
• Setelah setahun, akhirnya mau temu darat. Tiba-tiba malam idul Adha, rumahnya digerebek Densus. Ada alat bukti yang lengkap, dari mesiu hingga manual rakitan.
• Basyir ikutan ditangkap, tapi ketika jumpa pers, Basyir tidak disebut. Dasar orang kampung, mereka tidak curiga.
• Basyir, tiba-tiba menghilang…..
• Polisi malah nanya, “Siapa Basyir?”
• Kasus Sofyan Sauri pun sama. Sekarang dia sudah bebas. Yang jual senjata dihukum ringan. Tapi 25 Laskar yang diperangkap itu, diburu hingga liang lahat. Mati semua.
• Kenapa bisa terjadi ? Karena kita diam, terus-terusan diam.
• TV pun sudah diatur, agar narasumber yang memihak mereka yang didzalimi tidak diundang. Mediamainstream sudah diatur.
• Lalu ada media media online abal-abal, isinya sangat radikal. Agar semua media Islam digeneralisir semua radikal dan ditutup.
• Muhammadiyah menolak program deradikalisasi, karena cenderung proyek.
• Densus sudah punya dana 1,9 Triliun. Dari pajak kita juga. Tapi peruntukannya tidak diaudit.
• Kasus Siyono ini adalah the point of no return. Tidak bisa mundur lagi.
• Maka Muhammadiyah konsentrasi dulu ke otopsi. Kita hati-hati pada provokasi.
• Sudah ada 121 yang meninggal di luar pengadilan. Siyono salah satunya, alasan yang diberikan Polri sangat konyol.
• Demi Allah, kasus ini adalah tabir pembuka. Tidak ada kesalahan yang bisa ditutupi terus.
• Tuntutan Muhammadiyah jelas, Densus 88 dan BNPT diaudit. Termasuk yang untuk menutup mulut keluarga Siyono.
• Maka kita harus bersatu merapatkan barisan. Tahun 1884, ada ahli yang menyatakan, selama ummat Islam masih
1. Masih berkumpul di Kabah.
2. Khilafah masih ada.. ini sudah tumbang 1924.
3. Kebangkitan umat Islam lewat gerakan kebangkitan di setiap sudut dunia Islam.
• Maka, Mekah dibuat tidak aman. Dengan destabilisasi Tim Teng (Timur Tengah). Atau kecelakaan ketika Haji. • Selain itu, travel Umrah pun mulai diawasi dengan fitnah terorisme ke Suriah.
• Beragam lagi dilakukan untuk menghambat kebangkitan peradaban Islam. Yang utama adalah demonisasi Islam, agar non-Muslim takut pada Islam, dan menolak dipimpin olehnya.
• Kita juga harus faham bahwa kita hanya korban proxy war pabrik senjata. 50% lebih senjata ke Tim Teng, sisanya ke negara kecil yang konflik.
• Kita punya Allah. Kita berdoa pada-Nya. Tapi doa yang maqbul tentu jika para pendoanya hatinya bening. Maka mulailah dari sini, mari mulai dari tazkiyah nufus (taubat, sucikan jiwa – pen.).
• Islam akan tetap jaya! Jadikan generasi kita penegaknya. (Lindungi mereka dari perangkap isu radikalisme dan terorisme, ajarkan agama yang benar agar tidak mau diperalat mereka yang memancing jadi radikal seperti kasus Sofyan Sauri dan si N di atas___peringkas)
Wallahu a’lam Allahu Akbar…
Red: Adiba Hasan (antiliberalnews.com)
(nahimunkar.com)

"Ini Bukan Sengketa, Ini Cinta, Ini Cara Kita Saling Menjaga" by @Fahrihamzah

malam ini,
kisah ku mengguncang mu..
kau merasa kita seperti akan berpisah...

kau mendengar seolah aku akan pergi
dan tak akan pernah kembali...

aku melihatmu terpukul...
bersedih.. kata-kata mu tertahan..
terbata-bata...

kau seperti sulit mengungkap perasaan...
bulir-bulir hangat itu mulai mengalir...

aku ingin menenangkanmu sahabat...
jangan bersedih...
lerai airmatamu...

aku ingin mencintaimu tetap seperti dulu..
seperti pelepah dan bulir-bulir...
seperti embun dan ilalang pagi yang dingin..

kau bertanya,
inikah takdir kita dan di sini kah ia berakhir?

aku jawab tidak,
inilah perjalanan kita dan ia akan terus mengisi hari-hari...

perjalanan kita kaya,
perjalanan kita penuh romantika...
aku takkan lupa di mana kau berada...
pada hari ia bermula...

kita disebut ikhwan muda,
dan kita duduk bersama..
dalam halaqah kita..
di halaman kampus kita.

kita menghafal alquran...
kita mendalami sunnah dan kehidupan tauladan..

kita mendengar dan bertukar fikiran...
atas risalah akhir zaman.

kita membaca tanda-tanda zaman...
kita membahas dialektika kehidupan. .
teori sosial dan sastra perubahan. ..

hingga ia dianggap sempurna menjadi bekalan...dan kita terjun ke lapangan..

kini kita telah jauh...
berada di sini...
setelah setahap kesempurnaan.

kita memulai
kita meniti...dan..
kita terus belajar menjadi insan..
menjadi yang datang untuk perbaikan..

maka aku tidak maksudkan ini ..
kecuali untuk perbaikan.

jangan bersedih sahabat...
jangan takut dengan jarak...
dunia ini bulat...

perputaran adalah hukum alam...yg bergantian...
ditiup angin...diseret arus pasang..

aku berjanji takkan pergi...
jika kita terpaksa pergi aku akan menjadi yang terakhir...

aku akan bertahan...
ini rumah ku...
ini rumahmu
ini rumah kita...

seberapa kuat aku akan menjaga ini semua...sekuat kau...sekuat kita semua...

tetapi ini bukan sengketa...
ini cinta...inilah cara kita saling menjaga...

tetapi jika ia adalah benci...
terbakarlah kita semua jadi debu...

aku berlindung kepada Allah dari benci yang membakar hati...

aku tidak punya kehendak lain kecuali kebaikan...dan perbaikan..

hanya itu....

bersabarlah kawanku...
aku mendoakanmu...

___
*dari Twitter @Fahrihamzah, Senin malam (4/4/2016)

Israel Tekan Twitter Untuk Menutup Akun-akun Pengikut Hamas

Sumber-sumber media Zionis memberitakan negara penjajah Zionis sedang mengerahkan upaya besar untuk menekan para pejabat Twitter agar menutup akun-akun para pengikut Gerakan Hamas, di antaranya adalah akun jurubicara Brigade al-Qassam.

Surat kabar Zionis “The Source”, Ahad (3/4), menyatakan bahwa Twitter telah menutup akun Brigade al-Qassam yang berbahaya Inggris (yang jumlah pengikutnya sekitar 15 ribu follower). “The Source” juga menyatakan bahwaTwitter telah menutup akun Brigade al-Qassam yang berbahasa Arab (yang jumlah pengikutnya sekitar 140 ribu follower).

Al-Qassan Kecam Twitter

Divisi media Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, mengecam perusahaan Twitter yang menutup sejumlah akun resmi Al-Qassam yang berbahasa Arab dan Inggris. Hal itu dinilai sebagai bentuk keberpihakan jelas terhadap Israel, musuh utama Palestina.

Divisi media militer Al-Qossam menegaskan dalam pernyataannya kemarin Kamis (31/3), pada saat perusahaan Twitter memberikan mimbar bebas seluas luasnya kepada tokoh dan lembaga-lembaga penjajah Israel yang mengeluarkan pernyataan dan sikap rasis, ekstrem, dan bernada teroris, Twitter justru untuk ketiga kalinya secara berturut-turut selama dua pekan menutup akun-akun resmi Al-Qassam. 

Al-Qassam menegaskan, apa yang dilakukan Twitter adalah pelanggaran jelas terhadap hak individu dan kelompok yang dijamin dinyatakan Twitter sendiri yang berjanji komitmen kepadanya. Hal itu dinyatakan Twitter di depan warga dunia. Sikap Twitter dengan memblokir ini sebagai bentuk keberpihakan jelas terhadap Israel dalam sebuah konflik yang seharusnya bersikap netral.

Al-Qassam menegaskan, misi Al-Qossam sendiri sudah sangat jelas isinya adalah pembebasan dari penjajahan rasis Israel dan mereka mampu menyampaikan misinya ini kepada dunia. Seharusnya Twitter mampu menyampaikan misi tersebut tanpa diskriminatif.

Al-Qassam meminta Twitter untuk komitmen terhadap yang pernah di umumkannya berupa prinsip-prinsip kebebasan terutama prinsip memberikan semua pihak untuk berinovasi dalam bidang pemikiran informasi dan terlibat langsung tanpa ikatan apapun. (infopalestina.com)

Berhenti Berbaik Sangka

By:Nandang Burhanudin
*
Anda pasti kaget dengan judul di atas. Tapi Anda pun pasti tersentak melihat fenomena fakta berikut:

(1) Ketika Hitler merajai Eropa. Kaum Yahudi banyak yang bersembunyi di masjid-masjid. Umat Islam secara sukarela memberikan identitas Muslim, agar kaum Yahudi terhindar dari genosida Hitler. Tapi kini? Yahudi yang sama justru membunuhi umat Islam di Palestina. Menjajah. Menghinakan. Masihkah mau memaafkan?
(2) Ketika Presiden Mursi berkuasa. Mursi menunjuk Jenderal As-Sisi sebagai panglima AB. Mursi memaafkan institusi militer dan mengajak rekonsiliasi nasional. Ajakan Mursi sangat positif. Tapi apa yang terjadi kemudian? As-Sisi menjalankan agenda Yahudi. Mursi dipenjarakan bersama puluhan ribu antikudeta. Dibunuh. Dibantai. Dibakar. Dunia diam. Adakah rekonsiliasi itu?
(3) Ketika reformasi 1998. Semua sepakat menyongsong Indonesia baru. Rakyat Indonesia memaafkan kroni-kroni Orde Baru, terutama di partai politik (PDIP, Golkar, PPP). Namun apa yang terjadi kemudian? Megawati dengan angkuh menjual Indosat. China yang di era reformasi dipermasalahkan. Semakin menggurita dengan korupsinya. Masihkan berbaik sangka?
(4) Ketika seorang Ustadz dituduh bagian dari sel Terorisme Indonesia oleh Metro TV. Sang Ustadz tidak menuntut balik, tapi memaafkan. Lalu apa yang terjadi kemudian? Metro TV ternyata bagian dari jaringan Yahudi Internasional, dengan mengutus wartawannya berjumpa Netanyahu, si haus darah penjagal rakyat Palestina. Metro TV pula yang selalu rajin memberitakan aktivitas Densus 88, yang membunuh Siyono, Ustadz aktivis Muhammadiyah. Masihkah berbaik sangka?
Memaafkan. Berbaik sangka. Sangat bagus di kala kita kuat. Tapi melakukannya di kala lemah tak berdaya, sama dengan membuka jalan kezhaliman terus menjadi tsunami yang mematikan. Oleh karena itu, saat ada kesempatan dan celah. Berhentilah husnuzhan kepada kaum yang tak layak dihusnuzhani. Sebagaimana berhenti memaafkan kepada kaum yang tak layak diberi pemaafan. Allah pun mengatur segalanya dengan proporsional.

Studi Banding Kasus Ahok Sumber Waras VS Kasus LHI

Studi banding antara kasus RS Sumber Waras yang melibatkan ahok selaku Gubernur DKI Jakarta; dengan kasus Impor Sapi yang disangkakan kepada LHI.

Kasus RS Sumber Waras:

Audit yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), selaku lembaga resmi auditor negara, menyatakan bahwa pembelian lahan yang bersertifikat hak guna bangunan itu telah merugikan daerah sebesar Rp 191 miliar. BPK juga menilai lahan yang dibeli pemerintah lebih mahal dibandingkan harga tanah di sekitarnya sehingga ada potensi kerugian sebesar Rp 484 miliar. (https://m.tempo.co/read/news/2015/12/07/231725579/bpk-berikan-audit-rs-sumber-waras-ke-kpk-ada-6-penyimpangan)

Meskipun jelas-jelas merugikan negara, KPK belum menetapkan Ahok sebagai tersangka hanya karena KPK belum melihat adanya NIAT jahat dalam kasus tersebut.

"Kami harus yakin betul di dalam kejadian itu ada niat jahat. Kalau hanya kesalahan prosedur, tetapi tidak ada niat jahat, ya susah juga," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (29/3/2016). (http://megapolitan.kompas.com/read/2016/03/29/22580791/KPK.Belum.Temukan.Adanya.Niat.Jahat.dalam.Kasus.Sumber.Waras)

Kasus Suap Impor Sapi-LHI:

Pada fakta persidangan terungkap bahwa uang Rp1,3 miliar, yang dalam dakwaan jaksa diperuntukkan untuk LHI, ternyata uang tersebut digunakan oleh Ahmad Fathonah (AF) untuk mengurus proyek PLTS di Kementerian Daerah Tertinggal sebesar 300 juta, kemudian untuk membayar uang muka pembelian mobil Mercy S200 sebesar Rp400 juta dan membayar biaya disain interior yang dipesan AF sebesar Rp495 juta.

Artinya.... di persidangan terungkap bahwa TIDAK satu rupiah pun uang yang dituduhkan oleh KPK yang diterima oleh LHI. Jaksa KPK hanya bisa membuktikan aliran dana tersebut ke AF, tapi TIDAK bisa membuktikan bahwa uang itu diterima oleh LHI.

Sekalipun demikian, tidak ada KERUGIAN NEGARA dalam kasus ini, karena kenaikan kuota impor sapi yang dijanjikan ke PT. Indoguna tidak pernah terjadi. Lagi pula, ini adalah bisnis antara swasta dengan swasta. Dimana kerugian negaranya?

Meskipun demikian Majelis Hakim Tipikor, bahkan sampai tingkat kasasi, menetapkan vonis 18 tahun penjara kepada LHI karena dianggap AKAN MENERIMA gratifikasi dalam kapasitasnya selaku Penyelenggara Negara. ‪(‎NIAT‬).

Atas vonis hakim tsb, Prof. Bagir Manan (mantan ketua Mahkamah Agung) menyampaikan pandangannya sbb:

“Uang itu belum sampai kepada Luthfi. Jadi, hanya asumsi kita saja. Kita percaya pada keterangan Fathanah bahwa uang itu untuk dia dan Luthfi tidak mengakui itu. Hukum tak boleh mengadili orang hanya berdasarkan keterangan satu orang tanpa bukti lain,” ujarnya.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pers ini menuturkan seandainya pun ada NIAT, maka NIAT itu tidak bisa digunakan untuk menghukum. “Niat kita mau kawin, apa kita sudah kawin? Kan tidak. Peristiwa hukum belum terjadi,” tambahnya.

KESIMPULAN:

- Kasus RS Sumber Waras: KERUGIAN NEGARA 191 miliar, NIAT tidak ada. Maka ini bukan korupsi.

- Kasus LHI-Impor Sapi: KERUGIAN NEGARA 0 rupiah, NIAT (katanya) ada. Maka ini adalah korupsi.

Lah.... sejak kapan NIAT menjadi dasar dakwaan, sedang KERUGIAN NEGARA diabaikan?

Saya memang tidak pernah belajar di fakultas hukum, tapi gak GOBLOK-GOBLOK banget soal ginian.

Nahkumu bi al-dzawahir. Jatuhkan hukum sesuai dhohirnya, bukan niatnya. Begitu kaidah hukum mengajarkan.

Jadi, KPK punya "NIAT" berantas Korupsi tidak? 

Mari tertawa di zaman yang makin edan ini.

(by Erwin Al-Fatih)

Studi Banding Kasus Ahok Sumber Waras VS Kasus LHI http://www.portalpiyungan.com/2016/03/studi-banding-kasus-ahok-sumber-waras.html

Antara HTI, Demokrasi dan Pemilihan Gubernur DKI

Oleh: Rofi Munawwar*

Bulan Februari  2016 media sosial diramaikan berita wali kota Bogor Bima Arya yang meresmikan kantor DPD Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Kompas.com bahkan dengan sinis, membuat judul “Hadiri Peresmian Kantor HTI, Bima Arya Dikritik Netizen”. Sedangkan, Sindonews dengan tajuk “Gara-gara Resmikan Kantor HTI, Warga Bogor Kecam Bima Arya”.

Tentu, hadirnya Bima Arya ke acara apapun hak yang bersangkutan. Apalagi ia adalah seorang pimpinan untuk orang banyak.

Hanya saja, yang menarik kehadiran Bima Arya pada acara HTI menjadi multi tafsir dan bisa melahirkan banyak pendapat.  Apalagi sebelumnya, dalam sebuah terbitan resmi, Buletin Al-Islam, HTI  pernah membuat judul (maaf) agak sinis, “Pepesan Kosong Pilkada Serentak” yang isinya menolak diselenggarakannya Pilkada.

Tulisan tersebut bahkan sempat menimbulkan kritik dari Cagub DKI Jakarta, Dr. Adhyaksa Dault.

Di masyarakat (utamanya di jagad Medsos),  kehadiran Bima Arya dalam peresmian Kantor HTI menjadi bahan tertawaan. Bukannya, Bima Arya adalah pejabat Kepala Daerah yang ditetapkan dari hasil Pilkada 2013?

Dalam situs resmi HTI juga, dijelaskan yang hadir dalam acara itu bukan hanya Wali Kota Bogor. Tampak hadir pula Ketua DPRD Bogor, Sekda Kota Bogor dan Danrem 061 Suryakancana.

“Kami memberikan support untuk memerangi kebathilan dan kemungkaran di Kota Bogor,” tegas Bima Arya yang bertindak sebagai keynote speaker acara tersebut. [Pemkot Bogor Bersinergi Bersama HTI Perangi Kemaksiatan, http://hizbut-tahrir.or.id, 10 Februari 2016]

Wajar muncul banyak pertanyaan. Ada apa dengan HTI? Apa mungkin sudah mulai lentur dengan sistem demokrasi yang selalu ia kritisi selama ini?

Selain itu, selama ini, sikap alergi HTI terhadap demokrasi sedikit banyak telah membuat banyak gesekan di dalam tubuh umat Islam sendiri. Sangat disayangkan HTI (yang sejauh ini saya kenal sangat kreatif dalam dakwahnya), dalam waktu yang bersamaan, banyak juga umat Islam yang nyinyir dengannya.

Penulis bukan bersikap anti dengan ide HTI yakni menegakkan Khilafah.  Sebab tak ada umat Islam sedunia yang menolak jika ada khilafah ditegakkan. Masalahnya, mengapa tidak memanfaatkan saja kehadiran demokrasi menjadi alat untuk tujuan utamanya. Tentu, soal inipun (demokresi, red) masih membutuhkan perdebatan panjang.

Penulis hanya berpendapat bahwa sesungguhnya lawan khilafah bukanlah demokrasi walaupun keduanya jelas sekali perbedaannya.

Meminjam istilah Dr. Adian Husaini, istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sementara sistem khilafah berbeda dengan keduanya.

Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan keduanya, kata  Adian, jelas tidak tepat.

Masih menurut Dr. Adian, dakwah Islam ini juga bisa berkembang karena demokrasi yang menerapkan kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir juga bisa berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi; seperti di Indonesia, AS, Inggris, dsb, karena ada demokrasi dan hak menyatakan kebebasan berpendapat.

Bandingkan dengan di Arab Saudi dimana HT tidak bisa bebas bergerak. Karena itu, demokrasi memang harus dimanfaatkan, selama tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan saat HTI menjadi ormas, itupun juga sedang memanfaatkan sistem demokrasi, karena sistem keormasan di Indonesia memang “demokratis”.

Permasalahan kita bukan semata-mata karena sistemnya yang rusak. Tapi lebih kepada penguasa kita yang rusak. Bukankah,  kemungkinan besar sistem yang rusak bisa diperbaiki oleh penguasa yang benar dan mustahil sebaliknya. Maksudnya sistem yang benar saja bisa jadi rusak oleh pemimpin yang tidak benar apalagi sistemnya sudah rusak dari sananya.

HTI dan Pemilihan Gubernur DKI

Nah, momentum pemilihan gubernur DKI menjadi wasilah (sarana) yang seharusnya baik bagi HTI untuk ikut terlibat melahirkan cita-cita pemimpin Muslim, setidaknya itu dulu sebelum adanya khilafah.

Jika tidak, sikap memilih diam bagi HTI itu jauh lebih mulia daripada sikap ambigu yang berpotensi salah paham dan ujungnya melahirkan pecahnya ukhuwah di kalangan umat Islam sendiri.

Seperti kasus Wali Kota Bogor Bima Arya dan HTI, dimana sikap ambigu antara menolak demokrasi di satu sisi, namun menikmati buah demokrasi di lain sisi. Inilah bentuk perhatian penulis pada HTI.

Momentum pemilihan gubernur DKI Jakarta ini juga bisa saja menjadi ajang persatuang umat Islam Indonesia. Sebuah gagasan yang cerdas yang diberi nama konvensi gubernur Muslim,  yang pemilihan penguasa diserahkan dan dibimbing oleh para alim ulama dan Habaib, termasuk para tokoh dan cendekiawan Muslim. Mereka ditampilkan lebih banyak ketika kepentingan politik memerlukannya.

Kita sadari bahwa, sudah lama umat Islam trauma terhadap hukum (baca: peraturan perundang-undangan) yang dibuat dan merugikan umat. Karena memang hukum adalah produk politik. Tentunya lebih berpihak pada mereka yang memiliki kekuasaan (power).

Realita selama ini memang kekuasaan itu masih belum dekat dengan umat. Kekuasaan yang absolut, ternyata juga lebih dekat dengan penyalahgunaan wewenang (abuse of power), seperti perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme.

Lebih istemewa lagi, usaha-usaha umat memilih gubernur Muslim adalah langkah yang perlu didukung. Artinya, persatuan umat lebih mudah dieratkan. Jika kita selama ini sering terkotak-kotak karena perbedaan mazhab, kemungkinan besar kita bisa bersatu dengan satu pemimpin yang dipilih oleh para orang berpengaruh tadi.

Masalah Jakarta di masa depan bukan hanya tentang “Muslim pilih Muslim”, tapi tentang membangun Jakarta. Bukan “pembangunan” fisik model jalan tol, fly over, kereta cepat atau sekolah. Tetapi lebih kepada “pembangunan” manusia, menjadi manusia seutuhnya. Selaras pesan “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” dalam lirik Indonesia Raya.

Membangun manusia yang anti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Membangun manusia yang beradab. Membangun manusia yang bermanfaat bagi negara dan umat manusia seluruhnya. Membangun manusiaseutuhnya.

Kita berharap dari Jakarta lahir keadilan, yang membuat persatuan, hingga menjadi kekuatan. Dan karena lahir dari ibu kota, maka mudah menyebar ke daerah-daerah. Bahkan, dapat mempengaruhi negeri ini. Membangun adab, akhlaq, rasa adil adalah nilai nilai islam dan bagian dari syariah, sesuai cita cita HTI melahirkan khilafah. Kita mulai dari Jakarta!

___
*Penulis alumni Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Jogjakarta tahun 2015. Rubrik MIMBAR dikhususkan untuk para santri, pelajar, mahasiswa dan penulis pemula

Sumber: Hidayatullah

Abi... Umi... Bimbinglah Aku

......
Ingin Berapa Lama Hidup dengan Anak Kita?

Usia 20 tahunan, kita keluarga, menikah, punya anak, mendampingi masa balita hingga sekolah dasar.
Oh, lucunya mereka...

Usia 30 tahunan, kita menemukan anak anak ternyata sudah remaja, jatuh cinta, mulai banyak keluar rumah.
Oh cantik dan gantengnya mereka...

Usia 40-an, mereka menggapai cita, kuliah, makin jauh dari orangtua, berasrama, kos, atau di rumah, tapi mereka makin banyak keluar rumah.
Allah, jagalah mereka...

Usia 50-an Kita menemukan mereka semakin jauh dari kita, ingin mandiri, ingin membentuk keluarga sendiri.
Lalu, mereka hadirkan bayi lagi di pangkuan tangan kita yang mulai keriput.

Kita pun berkata "Ya Allah .. Betapa singkatnya hidup ini. Jangan kami termasuk orang yang sia sia kan kehidupan. Lindungi keluargaku. Anak keturunanku dari siksa dunia dan akhirat"

Kalau begitu...
Usia hidup kita tak berulang, kan?
Kalau begitu, usia, anak kita pun tak berulang kan?
Kalau begitu, sangat singkat kan mendampingi anak-anak kita, kan?

Kalau begitu, jangan pernah ridha wahai para Orangtua
Jika anak kita bisa mengenal huruf-huruf Al-Quran, bisa membacanya, bisa mempelajari nya
Hasil dari tangan orang lain
Tanpa ada campur tangan kita...

Kalau begitu, cemburu rasanya
Jika anak kita hanya mau belajar dengan guru disekolahnya,
Tapi tak mau dengan kita orangtuanya.

Kalau begitu, harus tidak nyamanlah hati kita
Jika anak kita disuruh mengerjakan PR dengan guru lesnya bukan dengan kita orangtuanya.

Kalau begitu, harus "sakit" hatilah kita
Jika anak kita menceritakan lawan jenis yang disukainya kepada teman sebangkunya, tapi tidak kepada kita orangtuanya.
Mengapakah mereka begitu percaya pada temannya, tapi tidak pada kita orangtuanya?

Kalau begitu, saat terbujur kaku
Jangan marah ya, jika anak kita meng-wakil-kan shalat jenazah
Hanya kepada ustadz dan ustadzah, sedangkan mereka sendiri tak bisa bacaan nya.

Ayah... Bunda
Ayolah beri manfaat waktu kita...
Sedikit saja untuk anak kita.
Bukan sekedar uang jajanan atau mainan semata.
Itu semua penting.
Tapi, kesungguhan kita sebagai orangtua akan memberikan dampak berbeda untuk anak anak kita...
Sesungguhnya kitalah sang pembelajar dan menjadi Uswah bagi mereka...

Jangan seperti peribahasa
"Semut disebrang laut nampak, Gajah di pelupuk mata tidak nampak"
Selalu menyalahkan orang lain baik itu Anak, Guru dll dan menganggap diri kita selalu benar.... Na'udzubillah

Diambil dari buku 7 Kiat Orangtua Shalih Menjadikan Anak Disiplin dan Bahagia (Seri #2 Yuk, Jadi Orangtua Shalih) dengan beberapa tambahan....

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. KISAH HIDUPKU.... - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger